“Industri sawit akan kami jaga daya saingnya. Apalagi, perusahaan di bawah anggota GAPKI telah menunjukkan tidak ada pengurangan karyawan (PHK) di tengah wabah,” ujar Joko.
Ditambahkan Joko bahwa perusahaaan sawit anggota GAPKI mendukung kebijakan pemerintah untuk menjaga ekspor sawit. Saat ini, Indonesia perlu membangun hubungan baik dengan negara tujuan utama seperti India, Pakistan, Bangladesh dan Tiongkok. Selain mengembangkan pasar baru tujuan ekspor yang lebih potensial contohnya negara di Afrika karena negara Afrika sedang tumbuh dan berkembang.
Di sisi lain, Joko mengusulkan agar pemerintah mengurangi hambatan ekspor seperti infrastruktur pelabuhan harus terus ditingkatkan kualitasnya, biaya logistik harus mulai diturunkan dan kewajiban pemakaian kapal nasional untuk ekspor harus dipertimbangkan kembali kebijakannya. Lalu, kampanye positif sawit tetap diperkuat terutama bagi negara-negara Eropa.
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia, Sahat Sinaga, mengusulkan pihak pemerintah maupun pelaku industri harus jeli dalam membaca permintaan konsumen di negara lain. Seperti contoh, penduduk Afrik menginginkan minyak sawit yang rasanya masih alami tanpa proses penyulingan (refinasi).
Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) tetap mendukung kegiatan promosi di dalam dan luar negeri. Muhamad Ferian, Plt. Direktur Kemitraan BPDP-KS menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung kegiatan promosi yang dilakukan pelaku industri sebagai amanah regulasi yang ditetapkan pemerintah.
Selain itu, BPDP-KS telah menunjukkan komitmennya membantu petani melalui program peremajaan dan mewujudkan petani yang mampu menghasilkan CPO tidak lagi sebatas panean buah sawit. [kontan]