Atas dasar ini pula Indonesia menyerukan perdamaian dan menghormati hak segala bangsa. Bangsa Indonesia meyakini 'Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.'
Kalimat yang luar biasa ini menjadi kalimat awal pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan tidak ada Negara lain yang menjadikan kepeduliannya atas perdamaian dan keadilan dunia, sebagai landasaan konstitusinya.
Dalam implementasinya, warna kebhinekaan yang menjadi pondasi berdirinya bangsa Indonesia, membuat para founding father kita tidak risih dengan semua perbedaan yang ada di dunia.
Saat Negara-negara di Utara melihat perbedaan sebagai ancaman, kita justru melihatnya sebagai harapan lahirnya tata dunia baru yang lebih tertib, damai dan berkeadilan. Saat bangsa-bangsa lain sibuk membangun persenjataan, kita justru sibuk merumuskan kerjasama.
Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan Indonesia tidak paripurna, selama penjajahan masih ada di atas muka bumi. Dari landasan berpikir seperti inilah, kemudian terwujud Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, yang menjadi tonggak awal lahirnya bangsa-bangsa baru di dunia, dan Gerakan Non Blok yang memiliki pengaruh besar dalam meredam eskalasi konflik perang dingin.
Inilah hakikat dari momentum sumpah pemuda yang perlu terus ditransformasikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya dan diadaptasikan pada setiap zaman.
Di mana secara genetic, hanya generasi muda lah yang mampu mengemban amanat tersebut. Karena merekalah yang akan terlontar ke masa depan, bukan generasi tua. Sejarah menunjukkan, bahwa pemuda adalah unsur utama yang membentuk setiap negara bangsa. Di tangan merekalah sebuah negara bisa terbentuk, berjaya, bahkan mengalami revolusi dan berubah arah.
Untuk kasus Indonesia, kaum muda lah yang pertama-tama menyusuan rangka bangun NKRI. Dan mereka pula yang pada akhirnya menjadi harapan untuk menyongsong Indonesia emas bersama dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi.
Fenomena Prabowo-Gibran
Bila kita cermati Narasi Kebangsaan Indonesia tersebut, sebenarnya itulah rangkuman narasi kampanye pasangan Prabowo-Gibran selama Pilpres 2024 lalu. Sebagai seorang prajurit dan sosok pemikir progresif, Prabowo memahami rangka bangun NKRI, peta geo-politik, dan memiliki proyeksi masa depan yang tajam.
Itu sebabnya beliau memilih sosok Gibran Rakabumingraka untuk mendampinginya sebagai cawapres di dalam kontestasi Pilpres 2024.
Dihadapan kita ada dua fakta alamiah yang muncul saat ini yang bila tidak direspon atau dituntaskan akan menjadi beban bagi generasi yang akan datang, serta akan membuat cita-cita Indonesia emas tahun 2045 bisa tidak tercapai.
Pertama, masa depan yang datang lebih cepat. Dalam beberapa decade terakhir, perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, mengalami lompatan yang siginifikan, sebut saja; kemajuan dalam bidang komunikasi dan informatika, artificial intelligence (AI), bio-technology, nano-technology, aerospace technology, dan energy alternatif non-fosil.
Semua pecapaian ini, memang belum optimal dan sempurna. Tapi kita sadari, inilah infrastruktur masa depan yang akan kita tuju nantinya. Itu sebabnya kita secara perlahan berbenah dan mulai beradaptasi. Tapi Pademi COVID-19 yang melanda dunia selama dua tahun terakhir, telah membuat masa depan itu datang lebih cepat dari yang seharusnya.
Dalam ngarai kebingungan yang melada, pencapaian teknologi masa depan itu menjadi jawaban. Ketika semua orang disuruh untuk mejaga jarak dan berdiam di dalam rumah (lockdown), global inter-connectivity menjadi jawabannya; AI menggantikan kerja-kerja fundamental manusia yang tidak maksimal di masa pandemi; bio-technologi melalui derivasinya (genomic,