02 Juni 2020
Catatan Ringan: Doa Buya Hamka untuk Bung Karno
  Nyoman Suardhika
  30 Maret 2020
  • Share :
credit Gambar / ACT

Oleh: Lalu MaraSatriawangsa

Kabargolkar.com - 
Kenapa Bung Karno berwasiat bila ia meninggal agar Buya Hamka yang menjadi imam salat jenazahnya?

Jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tahun 1938, Buya Hamka dipertemukan dengan Bung Karno oleh aktivis muslim Tionghoa Abdul Karim Oei di Bengkulu. Buya Hamka kala itu datang ke Bengkulu dalam rangka kegiatan Muhammadiyah.

Sementara Bung Karno baru saja dipindahkan sebagai tahan politik Belanda setelah mendekam selama empat tahun di Ende.

Dikutip dari buku Buya Hamka Setangkai Bunga di Taman Pujangga yang ditulis Akmal Nasery Basral. Mereka bertemu dalam pakaian resmi, berjas, da berdasi. Hamka dan Sukarno mengenakan kopiah hitam, sedangkan Karim Oei membiarkan rambut hitam pendeknya yang berkilat karena minyak rambut tak tertutup peci.

Karim Oei memperkenalkan Hamka sebagai orang yang berasal dari kota yang sama dan sebagai penulis tema-tema agama dan pujangga yang mulai dikenal namanya. “Beliau baru saja menerbitkan roman berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah,” ujar Karim Oei (halaman 305).

Penulis Buku Buya Hamka Setangkai Bunga di Taman Pujangga, Akmal Nasery Basral (Tengah)

“Selamat!” ujar Bung Karno memuji. “Sayang sekali saya belum baca roman Tuan Hamka karena tidak mudah mencari bacaan di sini.”

“Nanti akan saya kirimkan untuk tuan sebagai teman bacaan,” jawab Hamka.

Buya Hamka sangat senang berkenalan langsung dengan Bung Karno, salah seorang tokoh pergerakan yang terkenal saat itu. Nama Bung Karno sendiri diketahuinya saat Buya Hamka membantu Haji Agus Salim menunaikan ibadah haji.

Sebelum berpisah, Bung Karno meminta kesediaan Buya Hamka mendengarkan kisah anak Hooykaas, Residen Bengkulu, sedang liburan dari sekolah di Universitas Leiden mengunjungi rumahnya.

Begitu melihat perpustakaan bertanyalah anak Hooykass kepada Bung Karno. “Untuk apa bapak mengumpulkan buku dan membaca sebanyak ini?”

Bung Karno menjawab, “Anak muda, saya harus banyak membaca dan belajar karena atas izin Tuhan nanti saya yang akan menjadi presiden negeri ini setelah kami merdeka.”

Bung Karno bertanya kepada Buya Hamka. “Terdengar sombongkah jawaban saya dari ilmu agama, Tuan Hamka?”

“Insyaa Allah tidak. Itu harapan dan bentuk kepercayaan diri, bukan kesombongan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’alla mengabulkan kata-kata Tuan Sukarno itu dan menjadi presiden Indonesia yang membawa negeri ini pada keberkahan dan ampunan Allah Maha Pengasih Maha Penyayang,” jawab Buya Hamka sambil mengangkat kedua tangannya. “Amin Ya Rabbal Alamin.” Dan diikuti oleh Bung Karno dan Abdul Karim Oei.

Sebelum berpisah ketiganya berfoto sebagai kenangan-kenangan.

Mungkin inilah jawabannya mengapa Bung Karno berwasiat bila ia meninggal kelak, Buya Hamka-lah yang mengimani salat jenazahnya.

Doa Buya Hamka kali pertama bertemu agar Allah Subhanahu wa Ta’alla mengabulkan keinginan Bung Karno untuk menjadi Presiden. Dan doa Buya Hamka mengantar beliau menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Masya Allah.

Buku Buya Hamka Setangkai Bunga di Taman Pujangga diterbitkan oleh Rebublika. Dan seluruh royalti pejualan disumbangkan untuk Program Pengembangan Dai yang dikelola ACT. (EPIC)

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.