Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Prof. Thomas Suyatno: Jaga Persatuan dan Kesatuan semua Unsur Yang Merupakan Keluarga Besar Golkar
  Nyoman Suardhika   08 Juni 2021
Credit Photo / SOKSINEWS
ormas pendiri menjadi sumber kader Golkar. Golkar sebagai partai tidak boleh punya anggota ormas, tetapi anggotanya perorangan.

Menghadapi Pemilu 2024 mendatang, menurut Thomas, sikap SOKSI tegas mendukung Pemilu, dan Pileg. “Hukumnya wajib, tidak bisa tidak, itu sebagai pribadi-pribadi. Tetapi sebagai organisasi, SOKSI sebagai pendiri Golkar dalam Munas terakhir menegaskan bahwa Capres 2024 adalah Ketua Umum Golkar. Itu sikap politik SOKSI,” kata Thomas.

Sebagai saksi dan pelaku sejarah kelahiran dan perkembangan Golkar, apalagi masuk dalam jajaran Dewan Pembina Partai Golkar, Thomas merasa prihatin dengan kondisi internal partai berlambang pohon beringin itu.

Thomas merindukan masa-masa awal Golkar yang besar, solid, dan membudayakan suasana demokratis dan dialogis sebagai wadah bersama untuk saling memberi dan saling menerima ide, gagasan, dan konsep. Namun anggota DPR-RI (periode 1992 – 1997 dan 1997-1999) ini berusaha memaklumi kondisi sekarang karena berbagai faktor internaldan eksternal.

“Yang harus segera dilakukan adalah menjaga soliditas, kekompakan, persatuan dan kesatuan semua unsur yang merupakan keluarga besar Golkar. Suasana dialogis harus terus-menerus dikembangkan. Sekarang sangat memprihatinkan, bahkan saya katakan hampir tidak ada dialog, kecuali ada event besar seperti Munas atau Rapimnas,” kata Thomas.

“Mungkin karena kesibukan dan adanya agenda-agenda lain yang dianggap lebih penting. Padahal menurut saya, suasana dialogis sangat penting dan mendesak yang perlu mendapatkan prioritas oleh teman-teman saya di DPP Golkar. Kami sebagai Dewan Pembina masih mempertahankan suasana dialogis. Secara rutin membahas beragam isu dan persoalan untuk dicarikan solusinya, untuk kemudian diberikan kepada DPP Golkar,” papar Thomas.

Hilangnya suasana dialogis dalam kepengurusan Partai Golkar bisa menimbulkan mis-komunikasi antar-sesama kader seperti yang dilakukan Sabil Rachman.

“Belakangan ini sering terjadi mis-komunikasi. Itu bukan hanya tugasnya Sabil, tapi juga tanggung jawab dan tugas Ketua Umum serta Sekjen yang bertanggung jawab ke dalam dan keluar,” ujar Thomas.

Seharusnya Partai Golkar belajar dari pengalaman masa lalu dengan lahirnya Hanura, Nasdem, Demokrat, Gerindra, dan Berkarya. Semua partai itu dilahirkan oleh kader-kader Golkar.

“Jika tidak segera dilakukan pembenahan, tentu tidak mustahil, suara-suara itu, aspirasi anggota juga bisa terpecah-pecah nantinya. Tidak mustahil nantinya akan lahir partai-partai pecahan dari  Golkar. Kondisi ini  harus segera disikapi dengan membuka dialog antar-unsur di dalam tubuh Golkar,” kata Thomas.

Persoalan serius kedua yang kini terjadi di Golkar menurut Thomas adalah kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik.  Kader-kader Ormas Pendiri masih belum sepenuhnya dijadikan sebagai sumber utama kader Golkar. [Wartabuana]

 

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.