Implementasi "Making Indonesia 4.0" Untuk Capai Target Negara Dengan Perekonomian Terbesar Tahun 2030
manufaktur yang memberikan nilai tambah tinggi.
Implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia diyakini oleh Airlangga Hartarto akan membawa pertumbuhan ekonomi nasional lebih bersifat inklusif. Sehingga dapat melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali dan terbatas pada sektor mikro.
Pasalnya, era ekonomi digital juga menyasar pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Bahkan Airlangga Hartarto memprioritaskan UMKM dan IKM sebagai unit ekonomi terdepan yang akan berperan aktif dalam penerapan Making Indonesia 4.0.
Di samping itu, sesuai aspirasi Making Indonesia 4.0, kita akan mengembalikan kontribusi nilai ekspor sebesar 10% dari PDB nasional, ungkap Airlangga Hartarto. Selain itu, mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030.
Selama ini, ekspor dari sektor industri memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian nasional.
Pada tahun 2017, industri menyumbang sebesar 74,10% dalam struktur ekspor Indonesia dengan nilai mencapai US$125,02 milyar, naik 13,14% dibanding 2016 sekitar US$109,76 milyar. Terkait dengan penggunaan teknologi berbasis digital, Airlangga menyebutkan implikasi positif dari hal tersebut adalah terbukanya kesempatan baru bagi anak bangsa untuk masuk dalam bidang digitalisasi.
Jika apa yang digagas Airlangga Hartarto berhasil, maka bukan hal mustahil pada 2030, Indonesia tidak hanya masuk dalam 10 besar ekonomi terkuat di dunia tetapi juga mampu menjadi mercusuar dunia seperti apa yang diharapkan para founding fathers.
Menurut Airlangga, dengan penggunaan teknologi berbasis internet, muncul permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri.
Terkait program yang akan digulirkannya roadmap Making Industry 4.0 sebagai strategi memasuki revolusi industri keempat, Menperin, Airlangga Hartarto telah mengusulkan kepada DPR RI untuk memberikan tambahan anggaran pada 2019 mendatang sebesar Rp 2,57 triliun.
Usulan itu sendiri disampaikan Airlangga Hartarto saat raker bersama dengan Komisi VI DPR RI Selasa pekan lalu. Anggota Komisi VI DPR RI, Fraksi Golkar,
Eka Sastra menyebutkan bahwa Komisi VI telah meluluskan usulan tambahan anggaran yang disampaikan oleh Airlangga Hartarto.
Usulan tambahan anggaran tersebut diyakini
Eka Sastra akan mempermulus implementasi Making Indonesia 4.0 yang dikomandoi Airlangga Hartarto. Kami telah menerima usulan Menperin, Bapak Airlangga Hartarto terkait dengan penambahan anggaran untuk implementasi Making Indonesia 4.0. Kami di Komisi VI DPR RI memberikan pertimbangan untuk meluluskan usulan kenaikan anggaran tersebut.
Menurut pendapat
Eka Sastra karena sifatnya strategis untuk negara maka kami fikir ini perlu diprioritaskan. Namun dengan catatan Kemenperin optimalkan serapan anggaran 2018 sebesar 2,84 trilyun. Hingga nanti bisa berjalan maksimal program tahun mendatang.
Sumber