Dampak industri dan output yang diharapkan dari Apple Academy ini yaitu mengenai terciptanya lapangan kerja di Indonesia. Sekarang indonesia menjadi patokan dari Apple Academy yang sudah ada. Mirza menambahkan dari sisi dampak industri, ini terbuka untuk umum siapapun boleh mendaftar meskipun tidak memiliki basic coding.
“Untuk tahun ini 400 orang yang bergabung tahun ini pendaftarnya itu dari 80 kota di Indonesia dan yang kita cari adalah orang yang memiliki motivasi untuk skilling-up dan untuk belajar tidak terbatas umur dan profesi. Setelah lolos seleksi tidak ada biaya untuk bergabung dengan program kita semuanya selama 10 bulan peralatan dan uang saku kita siapkan. Dari 400 orang se-Indonesia itu lewat zoom dan semua harus kenal karena kita tidak tahu ide apa yang akan muncul di masing-masing orang. Jadi, sekarang demografinya luar biasa dan tujuan utama kita adalah kolaborasi. Semakin demografik kita semakin bervariasi, semakin diverse hasinya luar biasa outputnya. Ini yang dijadikan patokan dan hasilnya di Indonesia jauh dengan Brazil dan italia,” tambah Mirza.
Menko Luhut menutup diskusi dengan harapan bahwa akan bertumbuhnya pendidikan-pendidikan seperti Apple Academy ini untuk mendorong digitaliasi di Indonesia.
“Kita butuh orang yang paham dan mendukung digitalisasi. Jadi, kita butuh tempat macam (Apple Academy) ini. Jangan hanya buat di kota-kota besar, tapi juga mencerdaskan di daerah-daerah juga agar terjadi keseimbangan,” tutup Menko Luhut.