Kabargolkar.com, Jakarta -
Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI merilis hasil survei elektabilitas partai poliltik yang akan bersaing di pemilihan umum 2019. Dari survei yang dilakukan pada 26 April hingga 9 Mei 2018, elektabilitas parpol tertinggi diperoleh PDIP dengan 24,1 persen, lalu Partai Golkar 10,2 persen, Gerindra 9,1 persen, dan PKB 6 persen.
Sisanya berada di bawah 5 persen yaitu Partai Demokrat, PKS, Perindo, PAN, Partai NasDem, Partai Hanura, PBB, Partai Garuda, PSI, dan Partai Berkarya.
Survei ini menggunakan metodologi multistage random sampling dengan sebaran responden laki-laki dan perempuan masing-masing 50 persen. Margin of error diklaim sebesar 2,14 persen.
Namun, sebanyak 26,1 persen dari 2.100 responden tidak atau belum menjawab partai politik mana yang akan dipilih di 2019 nanti. Jumlah tersebut menjadi paling tinggi dibanding elektabilitas PDIP yang menempati peringkat pertama.
Menurut peneliti LIPI Syamsudin Haris, hal itu terjadi karena responden memang belum menentukan pilihan atau memang tingkat kepercayaan publik pada partai politik rendah.
“Jadi responden yang belum menjawab justru masih banyak dan itu penjelasannya bisa memang masih bimbang tentukan pilihan atau bisa juga rendahnya kepercayaan pada parpol. Atau juga memang belum mau memutuskan, apakah memilih A, B atau C,” ujar Syamsudin dalam Sosialisasi Hasil Survei Publik 'Partisipasi, Kepemimpinan Politik dan Masa Depan Demokrasi' di Hotel Century Park, Jakarta Selatan, Kamis (19/7).
Ia menambahkan rendahnya kepercayaan publik terhadap partai politik disebabkan banyaknya kasus korupsi yang menimpa kader partai. Beberapa kepala daerah dan anggota legislatif juga kerap terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK.
“Sangat bisa jadi rendahnya kepercayaan publik berhubungan dengan tingkat tindak pidana suap dan korupsi yang masih tinggi saat ini. Kita menyaksikan OTT oleh KPK ada bupati, wali kota, ada calon bupati, ada calon wali kota, banyak sekali. Ada juga anggota DPR,” kata Syamsudin. (
sumarsono)