"Semua wilayah akan terpengaruh, tetapi bel alarm paling sering berbunyi untuk negara-negara berkembang, banyak di antaranya mendekati default utang," kata laporan itu.
UNCTAD menyebut, ekonomi Asia dan global menuju resesi jika bank sentral terus menaikkan suku bunga tanpa mengambil langkah lain dan melihat ekonomi sisi penawaran, menambahkan bahwa soft landing yang ditargetkan kemungkikan tidak terjadi.
"Hari ini kita perlu memperingatkan bahwa kita mungkin berada di tepi resesi global yang disebabkan oleh kebijakan," kata Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan dalam sebuah pernyataan.
"Kita masih punya waktu untuk mundur dari tepi resesi. Tidak ada yang tak terelakkan. Kita harus mengubah arah," ujarnya.
"Kita juga menyerukan campuran kebijakan yang lebih pragmatis yang menerapkan pengendalian harga strategis, pajak penghasilan tinggi, langkah-langkah dan peraturan yang lebih ketat tentang spekulasi komoditas. Saya ulangi, campuran kebijakan yang lebih pragmatis ... kita juga perlu melakukan upaya yang lebih besar untuk mengakhiri spekulasi harga komoditas," beber Grynspan.
Dampak pada Asia
Laporan UNCTAD menyebut, kenaikan suku bunga tahun ini di AS akan memangkas pendapatan masa depan sekitar USD 360 miliar di negara-negara berkembang, terkecuali China, sementara aliran modal bersih ke negara berkembang telah menjadi negatif.
"Kenaikan suku bunga oleh negara-negara maju adalah yang paling rentan. Sekitar 90 negara berkembang telah melihat mata uang mereka melemah terhadap dolar tahun ini," ungkap UNCTAD.
Sementara itu, kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara diramal akan mencatat tingkat pertumbuhan di bawah lima tahun sebelum pandemi.
UNCTAD memprediksi ekonomi Asia Timur tumbuh sebesar 3,3 persen tahun ini, dibandingkan dengan 6,5 persen tahun lalu.
Biaya Impor yang mahal dan melemahnya permintaan global untuk ekspor serta perlambatan DI China juga akan menambah tekanan lebih lanjut pada bagian kawasan itu.
" Berfokus hanya pada pendekatan kebijakan moneter, tanpa mengatasi masalah sisi penawaran di pasar perdagangan, energi, dan pangan serta terhadap krisis biaya hidup memang dapat memperburuk situasi," tambah UNCTAD. (liputan6.com)