Jakarta- "Suporter sepak bola itu ada bermacam tipe dan salah satu
nya punya karakter jika tim kesayangannya di zalimi atau di colek maka suporter fanatik akan jauh lebih beringas untuk melawan dari pada anak STM," ucap Fahd El Fouz A Rafiq pada Jum’at (8/10) di Jakarta.
Ketua Bidang Hubungan ORMAS DPP Partai GOLKAR ini mengatakan, “Polisi adalah sekumpulan manusia pilihan yang ditugaskan oleh negara untuk menjaga kemanan, akan tetapi Human Erorr selalu ada, baik Invidunya yang mengakibatkan tercorengnya satu Instansi tersebut. Akan tetapi yang jadi fokus mata dunia adalah tewasnya 183 orang pada tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu dan lagi sepak bola Indonesia mendapat sorotan FIFA”.
“Ketika sepak bola Indonesia sedang melaju untuk mendapat ranking FIFA terbaik justru tragedi terjadi, ingat di tahun 2015 Indonesia terkena Sanksi FIFA karena dualisme kepengurusan klub yaitu Arema Cronus dan Persebaya 1926 dengan cepat Indonesia langsung kena Sanksi FIFA. Hal inilah yang membuat syok pencinta sepak bola tanah air. Olahraga yang harusnya menjadi hiburan menjadi ajang pertarungan politik”.
Kembali ke Tragedi Kanjuruhan, Fahd El Fouz A Rafiq ini mengatakan, evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mengetahui akar penyebab insiden, sejauh mana standard-standard pengamanan menjamin keselamatan dan melindungi Hak Asasi Manusia, bagaimana standard-standard tersebut dijalankan, pengambilan keputusan aparat keamanan dalam menggunakan alat-alat kekerasan, sampai pada sejauh mana manajemen risiko dari komersialisasi kegiatan yang dilakukan, misalnya dugaan penjualan tiket dengan jumlah yang lebih besar dari kapasitas kursi stadion dan pelaksanaan pertandingan yang semestinya bisa dilaksanakan lebih awal. Pemeriksaan menyeluruh mengenai bagaimana manajemen risiko diperhitungkan dan diantisipasi perlu dilakukan.
Harus terdapat akuntabilitas pertanggungjawaban jabatan apabila ditemukan pejabat atau pihak yang tidak melakukan upaya-upaya pencegahan efektif,” ujarnya.
Insiden Kanjuruhan yang mengakibatkan lebih dari 100 pendukung Arema meninggal dunia merupakan gejala kegagapan aparat keamanan dalam memahami dan merespons Psikologi Massa.
Ia menjelaskan bahwa pengamanan supporter Sepak Bola harus dibedakan dengan kegiatan pengendalian massa umum seperti unjuk rasa. Karakter massa supporter Bola memiliki keunikan sendiri. Juga bentuk bangunan fasilitas olah raga. Penegak hukum harus menggunakan pendekatan, prosedur, hingga alat kekerasan yang tepat guna menghindari penggunaan alat kekerasan yang tidak perlu dan eksesif.
“Belajar dari insiden Kanjuruhan ini, petugas seharusnya punya kapasitas untuk membedakan mana pelaku yang memicu dan melakukan kerusuhan dan mana penonton yang patuh dan supportif. Dugaan bahwa Polisi menembakan gas air mata ke arah penonton yang berada di tribun menunjukan bahwa petugas keamanan menempatkan seluruh supporter yang berada di Stadion sebagai obyek yang harus didisplinkan.Padahal di tribun terdapat anak, perempuan, dan orang-orang yang sama sekali tidak punya itikad ingin merusuh,” tegas Fahd