Krisis pangan dunia menyebabkan ratusan juta penduduk dunia mengalami kelaparan akut. Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan Juli 2022, sekitar 345 juta orang penduduk dunia saat ini dalam kondisi sangat kelaparan.
“Pada sektor energi, Rusia adalah pengekspor minyak terbesar di dunia, dimana lebih dari 40 persen kebutuhan bahan bakar negara-negara Eropa bergantung pada pasokan dari Rusia," jelas Bamsoet.
Walau demikian, Indonesia patut bersyukur kinerja ekonominya masih menunjukkan hasil memuaskan. Bahkan dalam pandangan Dana Moneter Internasional (IMF), Indonesia dipandang sebagai titik terang di tengah gejolak ekonom dunia yang rentan terhadap berbagai ancaman krisis. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2022 terus menunjukan kinerja yang memuaskan, berturut-turut mencapai 5,01 persen pada kuartal I, meningkat menjadi 5,44 persen pada kuartal II tahun 2022, dan kembali meningkat 5,72 persen pada kuartal III.
Bamsoet mengingatkan, walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil di atas 5 persen, kondisi tersebut tidak menutup fakta bahwa ancaman resesi global adalah nyata.
"Karena itu, kita tidak boleh terbuai oleh pujian IMF, bahwa prinsip kebijakan kita dalam menyikapi ancaman resesi global adalah optimistis, tetapi tetap waspada. Sebagai bagian dari komunitas internasional, dampak krisis global pasti akan berpengaruh pada ekonomi dalam negeri. Sekuat apa pun pondasi perekonomian nasional, tidak akan membebaskan kita dari pengaruh kondisi ekonomi dunia dan geopolitik global," pungkas Bamsoet.