kepengurusan tanpa kegiatan. Dinamika Golkar berubah menjadi Partai Golkar dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri, seperti Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai MKGR, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Hanura dan Partai Gerindra, adalah penyebab terjadinya hal tersebut.
HIPMI dan FKPPI juga lepas dari pengaruh Golkar, seiring lepasnya pengaruh Golkar di organisasi wadah tunggal lain yang didirikan di masa Orde Baru, seperti Kadin, HKTI, HNSI, KNPI, SPSI dan lain-lain. Ormas pemuda Golkar hanya tinggal AMPI, AMPG dan ormas pemuda Trikarya. Tetapi itulah hebatnya Golkar, walaupun wadah kepemudaan semakin sedikit, namun mekanisme organisasi pemuda tersebut tetap berjalan dan kepemimpinan terus berganti.
[caption id="attachment_13950" align="aligncenter" width="1024"]

Jajaran Pengurus Pusat AMPG di bawah pimpinan Ketua Umum Ilham Permana dan Sekjen Eka Sastra.[/caption]
Golkar hari ini, di tengah situasi paling dinamis dalam sejarah di mana ada lima ketua umum dalam periode kepengurusan 2014-2019, tetap mampu melahirkan tokoh muda seperti Ketua Umum AMPG Ilham Permana, Sekjen AMPG Eka Sastra, Ketua Umum AMPI Dito Ariotedjo, Wakil Ketua Komisi IX Ichsan Firdaus, Ketua Umum Baladhika Karya SOKSI Novel Saleh Hilabi, dan lain-lain.
Golkar dengan kekuatan mekanisme organisasi terbukti mampu melahirkan kepemimpinan nasional yang kuat, menjadi wadah regenerasi anak muda yang dinamis. Dalam sejarahnya, Golkar tidak terjebak menjadi partai milik tokoh tertentu, atau keluarga tertentu, karena mekanisme organisasi tersebut. Partai lain bisa jadi punah dari sejarah karena hanya mengandalkan satu-dua tokoh saja, sementara tokoh di Golkar dari generasi muda dan tua, hamper berimbang dan saling menggantikan.
Sejarah terus berjalan, roda waktu tetap berputar, masa depan demokrasi Indonesia kemungkinan ada di tangan Golkar.
Sekian.[Redaksi]