Ini linear dengan tujuan demokrasi, tak lain untuk pendidikan politik melalui pelibatan publik dalam pengambilan keputusan. Tujuan tersebut sedikit banyak tercapai, karena bila kita amati dua tahun terakhir, tema diskusi di warung kopi, kafe, maupun mall tak lagi seputar sepak bola, movies, dan tren terkini saja. Sebaliknya keriuhan capres/cawapres dan manuver para elite juga menjadi konsumsi anak muda.
Ini tentu menggembirakan, paling tidak mereka (kalangan milenial) mulai peduli terhadap politik. Dengan semakin dalam publik terlibat, maka akan memunculkan pendewasaan kolektif, di mana masing-masing orang menganggap perbedaan sebagai keniscayaan, sehingga mengurangi potensi keterbelahan yang tidak produktif.
Pada konteks national leadership mendatang, Golkar sesuai dengan amanat Musyawarah Nasional (Munas) 2019 dan Rapimnas, Maret 2021 memutuskan Ketua Umum Airlangga Hartarto sebagai bacapres Partai Golkar. Ini merupakan amanat dari forum tertinggi organisasi, yang selanjutnya dijalankan oleh seluruh kader. Sampai hari ini Golkar masih berpegang pada hasil Munas dan Rapimnas tersebut. Kalau pun ada opsi lain, semua itu diserahkan kepada Ketua Umum.
Posisi yang demikian membuat Golkar tidak tergopoh-gopoh untuk merespons setiap perkembangan yang terjadi. Misalnya ketika ada koalisi partai lain yang sudah menetapkan bacapres, bagi kami itu adalah hal yang biasa. Pasalnya batas yang ditetapkan KPU sebagai penyelenggara pemilu masih cukup lama, September 2023, di mana dalam politik waktu lima bulan lebih dari cukup untuk memikirkan setiap langkah.
Meski demikian, kami menghormati teman-teman partai lain yang memilih jalan berbeda, karena masing-masing memiliki argumen dan kalkulasi politiknya sendiri-sendiri.
Ketiga, saat ini salah satu anggota KIB, yaitu PPP telah mendukung Ganjar Pranowo. Bagi kami hal itu juga sah-sah saja, mengingat KIB bukanlah organisasi, melainkan lebih tepatnya sebagai konfederasi. Masing-masing anggota memiliki independensi sendiri untuk satu hal, namun akan bersama-sama dalam tujuan yang lebih besar, yaitu cita-cita Indonesia yang lebih baik.
Dengan basis pemikiran yang demikian, maka Golkar tidak melihat dukungan PPP ke Ganjar sebagai keretakan koalisi. Pasalnya bisa saja nanti Golkar, PPP, dan PAN akan bertemu di satu titik, termasuk dalam calon presiden yang akan didukung. Sebab klaim dukungan yang muncul hari ini barulah klaim subjektif, sampai pada masanya nanti didaftarkan ke KPU.
Lebih dari Dua
Keempat, Ketua Umum Airlangga meyakini bahwa upaya membangun Indonesia yang lebih baik, tidak bisa dilakukan sendirian. Termasuk dengan teman di kabinet saat ini, maupun dengan partai-partai oposisi. Itu dibuktikan dengan kelincahan komunikasi politik Airlangga dengan bertemu hampir semua tokoh dari semua partai untuk mencari sebanyak mungkin titik temu, dan bukan memperlebar jarak politik.
Silaturahmi adalah koentji, demikian keyakinan kami. Itu pula yang dilakukan para founding fathers kita di masa lalu, yang bisa bertemu setiap saat, meskipun memiliki perbedaan dalam cara membangun negara.
Kelima, Golkar terbuka terhadap semua analisis koalisi yang saat ini digaungkan oleh sejumlah elite parpol. Sejauh ini pengelompokan politik yang muncul mengerah ke tiga bacapres, yaitu Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Namun demikian, ada juga pihak yang berkeinginan membangun koalisi besar, sehingga end of