Kabar Golkar

Golkar dan Agenda Politik 2024

Oleh · · Kabar Nasional

Dr Ahmad Doli Kurnia Tandjung Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar
Dr Ahmad Doli Kurnia Tandjung Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar

Adaptif

Pertama, terkait dengan pileg, target Golkar di setiap pemilu adalah selalu meningkatkan dukungan rakyat seoptimal mungkin. Sejak pemilu perdana pasca reformasi, 1999, alhamdulillah Golkar selalu mendapatkan dukungan pemilih dalam jumlah yang signifikan. Secara umum posisi Golkar tidak pernah keluar dari tiga besar. Bahkan pada Pemilu 2004, Golkar yang saat itu mendapat tekanan politik luar biasa --karena dikaitkan dengan Orde Baru-- justru muncul sebagai pemenang.

Ini menunjukkan bahwa rakyat senantiasa merindukan Golkar untuk berkiprah dalam politik Indonesia. Setiap upaya untuk menghabisi partai ini terbukti gagal. Termasuk keluarnya sejumlah tokoh kunci yang di kemudian hari membentuk partai baru, tidak serta-merta membuat Golkar limbung. Justru yang terjadi sebaliknya, Golkar semakin menjadi jangkar bagi demokrasi di negara ini, serta mampu beradaptasi dengan reformasi itu sendiri.

Dengan modal tersebut, maka pada 2024 nanti seluruh kader partai Golkar meyakini bahwa kita bisa mendapatkan suara melebihi 2019.

Kedua, pada perhelatan pilpres, Golkar sejak awal telah memulai tradisi baru, yaitu membangun koalisi sejak dini. Menengok ke belakang, cikal bakal Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sudah dimulai sejak pertengahan 2021. Rasionalisasinya, kerja sama politik atau aliansi antarparpol sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari, sehingga tercipta kesepahaman antaranggota koalisi.

Lebih dari itu, dengan waktu yang panjang, maka masing-masing partai dapat merumuskan visi bersama, termasuk menyepakati tokoh yang akan didukung bersama. Dalam jangka panjang, melalui strategi ini, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto ingin mengajak publik terlibat dalam diskursus pemilu (termasuk capres) sehingga masyarakat terbiasa dengan perbedaan.

Ini linear dengan tujuan demokrasi, tak lain untuk pendidikan politik melalui pelibatan publik dalam pengambilan keputusan. Tujuan tersebut sedikit banyak tercapai, karena bila kita amati dua tahun terakhir, tema diskusi di warung kopi, kafe, maupun mall tak lagi seputar sepak bola, movies, dan tren terkini saja. Sebaliknya keriuhan capres/cawapres dan manuver para elite juga menjadi konsumsi anak muda.