dibicarakan,” tegasnya.
Dia menekankan, sekarang dirinya harus fokus bekerja ketimbang menuntut karena standar yang ditetapkan gubernur dan wakil cukup tinggi.
Salah satu orang terdekat Nurdin Abdullah, Bunyamin Arsyad mengatakan, ada dua kelompok orang yang mengkritisi TP2D. Kelompok pertama, kata Om Ben–sapaan akrabnya, adalah mereka yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran TP2D. “Mereka ini ada ketakutan karena mereka tidak provesional dalam bekerja,” jelasnya.
Kelompok kedua adalah mereka yang belum dan belum memahami tugas pokok dan peran TP2D. “Kelompok ini asal bicara dan menilai sesuatu berdasarkan pendapat dan asumsi dia sendiri,” ujarnya.
“Saya yakin seakin-yakinnya, orang-orang yang mengkritisi TP2D belum memahami sepenuhnya tentang lembaga yang dahunya disebut staf ahli ini,” jelas Om Ben.
Menurut Om Ben, TP2D membuka diri untuk diskusi dengan siapa saja. “Kalau mau memahami TP2D silahkan ke kantor gubernur. TP2D berkantor di kantor gubernur. TP2D selalu menerima masukan dan membuka diri untuk diskusi,” tegasnya.
Om Ben sangat bersyukur kepada semua pihak yang memberi sumbang saran pemikiran untuk kemajuan Sulsel ke depan. “Langkah yang terbaik adalah koreksi diri dan berbuat sekecil apapun untuk kemajuan Sulsel. Apa yang sudah diperbuat oleh orang-orang yang selalu mengkritisi tanpa solusi itu untuk Sulsel,” tegas Om Ben.
Sebelumnya, Nurdin mengatakan, tugas TP2D yang beranggotakan 15 profesor ini tak main-main. Mengawal progamnya, hingga melakukan evaluasi. Termasuk memastikan semua programnya berjalan maksimal.
“Tanggung jawab mereka besar. Mendampingi OPD, selain ini sinkronisais progam antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Tak ada lagi yang berjalan sendiri,” bebernya.
Setiap program prioritas yang dia canangkan, semuanya akan diolah di TP2D. Makanya Nurdin sengaja memberi target khusus untuk beberapa bidang, ada infrastruktur, energi, hingga bidang lain yang menjadi fokus programnya.
Tim ini pun, kata NA tak akan berubah selama lima tahun pemerintahan periode pertamanya. Tim ini akan terus berkoordinasi dengan OPD setempat. “Mulai jajaran staf hingga jajaran asisten di pemprov,” tambahnya.
Nurdin pun berharap OPD bisa kerja ekstra. Tak terganggu, melainkan bisa bekerja lebih baik dengan adanya pendampingan TP2D dan tenaga ahli. Target 100 hari pun telah dia berikan.
Menurutnya, ini menjadi target awal kepala OPD guna memastikan program Nurdin Abdullah berjalan optimal. Sekaligus menjadi evaluasi.
Dari informasi yang diperoleh, Biro Pembangunan dan Pengadaan Barang dan Jasa, telah mengusulkan tambahan anggaran Rp800 juta untuk tunjangan kerja 44 anggota TP2D. Bahkan informasi yang himpun Harian Rakyat Sulsel, jika honor setiap anggota berkisar Rp4 juta hingga Rp5 juta, terhitung sejak bulan Oktober.[
Rakyatsulsel]