Kabargolkar.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 hanya tumbuh 4,49
persen. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar. Untuk mengatasi perlambatan, Pemerintah telah menyiapkan beberapa kebijakan yang akan segera diterapkan sebelum tutup tahun.
Capaian kuartal III tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kuartal III-2022 yang tumbuh 5,73 persen (yoy) maupun ki¬nerja sebelum Pandemi, yaitu kuartal III-2019 sebesar 5,01 persen (year on year/yoy).
Meski mengalami perlam¬batan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, per¬tumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2023 masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan banyak negara lain.
“Indonesia menjadi salah satu negara yang ekonominya tumbuh kuat, lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain, termasuk China, Malaysia dan Singapura. Kita juga masih berada di atas Vietnam,” kata Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/11).
Namun begitu, kata Airlangga, Pemerintah makin mewaspadai tingginya risiko ketidakpastian ekonomi global. Terutama akibat konflik di Timur Tengah antara Israel dan Palestina yang meningkat, serta dampak fenomena alam El Nino.
Kondisi tersebut diperkirakan membuat pertumbuhan ekonomi banyak negara di dunia semakin melambat dan harga minyak bumi meningkat.
“Perubahan iklim juga mem¬buat pasokan pangan bakal ter¬ganggu yang menyebabkan harga pangan jadi tinggi. Ini harus di¬waspadai Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah, ditegaskan Air¬langga, tidak hanya menginginkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi hingga di atas 5 persen di 2023. Namun pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Agar bisa tumbuh di atas 5 persen, Pemerintah mengeluar¬kan beberapa jurus. Di antaranya, terus berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan menjaga inflasi dan menyalurkan insentif.
“Pemerintah akan mendorong permintaan domestik. Ini menja¬di strategi kebijakan Pemerintah di jangka pendek untuk menge¬jar pertumbuhan ekonomi kem¬bali di atas 5 persen di triwulan IV-2023,” kata Airlangga.
Dia melanjutkan, penambahan bantuan sosial dan stimulus fiskal sektor perumahan juga akan digencarkan di akhir tahun ini. Jurus ini dilakukan untuk men¬jaga daya beli masyarakat dan mendorong investasi agar lebih banyak masuk ke Indonesia.
Tidak hanya itu, peningkatan penyerapan tenaga kerja dan upaya nilai tambah ekonomi akan terus dilanjutkan ke depan. Terutama pembangunan berbagai kawasan industri termasuk Ka¬wasan Ekonomi Khusus (KEK).
“Untuk mengatasi perlam¬batan ekspor, kami akan mem¬berikan rileksasi, kami akan melakukan evaluasi terhadap Devisa Hasil Ekspor (DHE) karena belum maksimal dalam 3 bulan ini,” tegas Airlangga.
Plt Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro & Keuangan Kemenko Bidang Perekono¬mian, Ferry Irawan mengatakan, capaian PDB (Produk Domestik Bruto) RIQ3-2023 ini masih cukup baik dan solid mengingat kondisi ekonomi global yang penuh dengan tekanan.
Menurut Ferry, PDB Indonesia masih mengindikasikan pertum¬buhan konsumsi masyarakat, ki¬nerja industri pengolahan hingga akomodasi dan pergudangan, mencatatkan kinerja positif. Mo¬mentum ini harus terus dijaga.
“Sejumlah stimulus yang digelontorkan pemerintah bisa menopang ekonomi hingga akhir tahun,” ungkapnya.
Jaga Daya beli
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan paket kebijakan bakal digelontorkan untuk melindungi daya beli dan menjaga stabilisasi ekonomi.
Pemerintah bakal mengucur¬kan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk 18,8 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sebe¬sar Rp 200 ribu per bulan untuk November dan Desember 2023