[caption id="attachment_16210" align="aligncenter" width="700"]
Dana Desa salah satunya untuk pembangunan infrastruktur di desa. Sehingga masyarakat diminta berperan aktif. (jabarekspres)[/caption]
kabargolkar.com, PADALARANG - DPRD Kabupaten Bandung Barat meminta pengunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) digunakan secara transparan dan tepat sasaran. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari roda ekonomi dana desa tersebut. Masyarakat juga diminta terlibat aktif dalam mengawasi penggunaan dana desa yang berjumlah miliaran rupiah ini. Demikian diungkapkan Wakil Ketua DPRD KBB Sunarya Erawan, di Padalarang, kemarin.
Menurut Politisi Golkar ini, pengawasan dari masyarakat sangat diperlukan agar pengunaan dana desa tersebut tidak diselewengkan oleh pemerintahan desa.
“Sejak awal perencanaan itu semua harus transparan.Apalagi pada saat pelaksanaannya. Sekarang keterlibatan masyarakat sangat penting, itu untuk mengawasi bersama penggunaan dana desa ini,” kata Sunarya.
Dia menjelaskan, pemerintahan desa harus memiliki perencanaan yang matang agar penggunaan dana desa tepat sasaran. Namun, hal itu juga harus didukung oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, khususnya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bandung Barat.
“Perencanaannya sudah jelas harus disesuaikan dengan segala kebutuhan masyarakat. Lalu apa saja yang harus diprioritaskan. Terpenting lagi itu harus dilaksanakan secara transparan dan terbuka,” katanya.
Sunarya mengungkapkan, selama ini masih banyak permasalahan di desa yang harus segera diselesaikan oleh pemerintahan desa. Diantara persoalan tersebut yakni seperti pembangunan infrastruktur jalan, pertanian, irigasi dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
“Memang ada beberapa masalah yang prioritas harus diselesaikan. Namun, faktanya sampai saat ini desa belum sanggup menyelesaikannya,” ujarnya.
Namun demikian, Sunarya mengatakan, bahwa yang mendesak untuk segera diselesaikan adalah Bumdes. Pasalnya, saat ini masih banyak Bumdes di Bandung Barat yang tidak aktif.
“Dampaknya banyak masyarakat yang menjadi sasaran empuk oleh rentenir. Padahal, jika Bumdes ini bisa berjalan, itu dapat membantu masyarakat. Sehingga masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan modal usaha untuk dagang seperti gorengan pun, itu tidak lari pinjam ke rentenir,” ungkapnya.
Sunarya berharap dengan besarnya ADD yang didapatkan oleh desa, itu bisa terlihat geliat pembangunan-pembangunan oleh desa.
“Intinya penyelesaian masalah yang bisa dijangkau oleh desa, ya itu harus cepat dikerjakan,” ucapnya.
Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bandung Barat, dana Desa Tahap II Tahun Anggaran 2018 di Kabupaten Bandung Barat dengan total nilai Rp 79.316.544.400 sebelumnya sudah dicairkan. Setiap desa rata-rata mendapatkan keuangan dari berbagai sumber hingga Rp 2 miliar.
“Tahun ini, dana desa yang dikucurkan mencapai Rp198 miliar, lebih besar dibandingkan tahun 2017 lalu yang hanya Rp152 miliar bagi 165 desa. Setiap desa rata-rata menerima sebesar Rp2 miliar,” kata Kepala DPMD KBB, Wandiana.
(jabarekspres)