Kabargolkar.com - Politisi Golkar, Idrus Marham, mengajak semua elemen masyarakat menghilangkan syak wasangka setelah penyelenggara Pemilu 2024. Selain tidak baik, kata Idrus, syak wasangka bisa mengganggu roda pemerintahan.
"Dengan kondisi sehabis pemilu, banyak orang harus sadar diri. Yang menang jangan sampai lupa diri, mabuk kemenangan sehingga memancing syak wasangka dan yang kalah jangan sampai larut dalam jeratan syak wasangka sehingga tanpa sadar mengalirkan segala pikiran jernihnya," ujar Idrus kepada wartawan, Jumat (23/2/2024).
Menurut Idrus, sudah saatnya semua orang berpikir positif dalam membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Efek syak wasangka bisa merembet ke mana-mana dan itu sudah mulai terlihat seperti syak wasangka terhadap quick count hasil Pilpres 2024 atau pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh.
Padahal, pertemuan tersebut seharusnya dipandang secara positif untuk membangun bangsa ke depannya.
"Yang saya risaukan, jangan sampai sehabis pilpres dan pileg, kita justru disandera oleh syak wasangka di sana sini. Apalagi kalau sampai mendominasi alam pikiran anak bangsa," tandas Idrus.
Menurut Idrus, dari aspek agama Islam, syak wasangka jelas dilarang karena termasuk dosa. Bahkan di dalam Al Qur'an dan hadis ditegaskan syak wasangka perlu dijauhi dan prasangka buruk merupakan ucapan yang paling dusta.
"Tanpa disadari, syak wasangka cenderung berubah bentuk menjadi logika pelarian atas sebuah ketidakberdayaan," ungkap Idrus.
Idrus mencontohkan daya rusak dari syak wasangka, yakni perang saudara antara suku Hutu dan Tutsi di Rwanda yang menggasak lebih dari 20 persen nyawa warga negaranya. Menurut dia, perang tersebut berawal dari syak wasangka sehingga tidak berlebihan jika syak wasangka dijuluki bola liar yang sadis.
Idrus pun mengajak masyarakat menghilangkan syak wasangka pasca-Pemilu 2024. Menurut dia, penyelenggaraan Pemilu 2024 harus dihormati dan jika ditemukan dugaan pelanggaran atau kecurangan, maka segera ditindaklanjuti melalui mekanisme hukum yang berlaku, tanpa harus syak wasangka.
"Saat ini, syak wasangka punya daya retas yang dahsyat, mudah menyebar dan diyakini. Sampai-sampai orang-orang yang menciptakan prasangka pun yakin kalau prasangka imaginer-nya adalah kebenaran obyektif. Pada skala-skala kecil, syak wasangka adalah bumbu sosial yang biasa dan bisa dilakukan oleh orang-orang biasa," pungkas Idrus.