Faktor Pertama, keputusan strategis Partai Golkar yang berkomitmen mendukung penuh pemerintahan Presiden Joko Widodo – Maruf Amin. Bahkan, melalui Munaslub dan Rapimnas tahun 2016, Partai Golkar menjadi partai pertama yang dengan tegas sejak awal mencalonkan Jokowi untuk Pilpres 2019. Keputusan itu berdasarkan berbagai pertimbangan ideologis, strategis, dan kalkulasi politik yang matang.
Secara filosofis-ideologis, keputusan mendukung pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla saat itu bermakna bahwa Partai Golkar mempertahankan jatidirinya: lahir untuk berkarya nyata bagi rakyat dan negara di bawah naungan Pancasila. Sedangkan keputusan mengusung Jokowi sebagai capres di Pilpres 2019 adalah ‘jalan ideologi’ Partai Golkar untuk mewujudkan Visi Negara Kesejahteraan 2045, sejalan dengan Nawacita Jokowi menuju Indonesia Emas 2045. Dari kalkulasi politik tahun 2016 itu, Golkar mencermati bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, tidak ada kader Golkar yang mampu menandingi popularitas dan elektabilitas Jokowi.
Keputusan strategis Partai Golkar tahun 2016 berlanjut di era kepemimpinan Airlangga Hartarto pasca Pilpres 2019. Di satu sisi, dengan menjadi bagian dari Pemerintah, Partai Golkar mempunyai ruang untuk berkarya nyata bagi masyarakat dan negara sesuai jatidirinya ‘karya-kekaryaan’. Di sisi lain, komitmen kuat dan dukungan penuh Partai Golkar membuat Presiden Jokowi merasa nyaman berjalan bersama Golkar. Tak heran kalau publik melihat Presiden Jokowi terkesan lebih dekat dan mesrah dengan Partai Golkar.
Jadi, efek ekor jas Presiden Jokowi buat Partai Golkar sudah bekerja sejak tahun 2016 dan berbuah pada Pileg dan Pilpres 2019. Selain berhasil memenangkan Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019, Partai Golkar juga menduduki posisi kedua Pileg saat itu dengan perolehan 12,51 persen suara, padahal Golkar baru saja lepas dari konflik berkepanjangan selama 1,5 tahun. Di Pilpres dan Pileg 2024, asosiasi Golkar – Jokowi semakin menguat yang terbukti dari kenaikan suara Pileg lebih dari 15 persen, selain memenangkan paslon Prabowo-Gibran (hasil sementara).
Faktor kedua, kerja cerdas dan taktis Airlangga Hartarto sejak awal kepemimpinannya dalam merangkul dan mensolidkan berbagai kekuatan internal partai dan mengkonsolidasikan organisasi atau mesin partai dari pusat hingga daerah. Termasuk menyiapkan secara terencana dan terukur sejak awal kader-kader potensial untuk bertarung di Pileg, Pilpres, dan Pilkada. Dan untuk menjawab tuntutan zaman, banyak kader muda potensial dipromosikan duduk di struktur elit partai maupun bacaleg, bacagub, bacabub/bacawalkot, baik yang maju di Pileg 2019 dan Pilkada serentak 2020 maupun di Pileg dan Pilkada 2024. Bahkan, beberapa kader muda Golkar duduk di kabinet Indonesia Maju.
Yang tidak kalah penting, Keputusan Rapimnas Partai Golkar tahun 2019 yang sejak dini mencalonkan Airlangga Hartarto sebagai capres di Pilpres 2024, setelah Jokowi tidak bisa maju lagi. Meski dalam perjalannya diwarnai dinamika internal dan akhirnya gagal, namun pencalonan dan perjuangan gigih hingga detik-detik terakhir untuk meloloskan Airlangga Hartarto menjadi capres atau cawapres justru menjadi media ‘kampanye’ yang efektif bagi Golkar selama 4 tahun. Sebab tanpa disadari, selama 4 tahun itu, Airlangga Hartarto dan Golkar terus menjadi