Karena itu, ia mengajak para pejabat di Indonesia menjadikan kesederhanaan sebagai prinsip yang tercermin dalam kebijakan dan penggunaan anggaran negara, bukan sekadar simbol atau pencitraan.
Menurutnya, kesederhanaan tidak cukup ditunjukkan melalui aktivitas seremonial, melainkan harus terlihat dalam pengelolaan fasilitas jabatan, perjalanan dinas, hingga keberpihakan terhadap kepentingan publik.
“Uang negara adalah uang rakyat. Di balik satu pesta yang berlebihan, perjalanan dinas yang terlalu mewah, atau fasilitas yang tidak diperlukan, bisa jadi ada sekolah, rumah sakit, jalan desa, air bersih, atau keluarga yang seharusnya mendapat bantuan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ngabalin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota delegasi Partai Golkar yang mengikuti kunjungan ke China karena dinilai menunjukkan disiplin serta semangat untuk belajar. Ia berharap pengalaman itu dapat menjadi inspirasi dalam melahirkan berbagai gagasan yang bermanfaat bagi partai maupun pembangunan nasional.
“Partai Golkar harus terus melahirkan pemimpin yang kuat tanpa menjadi angkuh, berwibawa tanpa bermewah-mewahan, serta memiliki kekuasaan tanpa kehilangan hati. Rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sibuk terlihat hebat. Rakyat membutuhkan pemimpin yang bekerja agar kehidupan mereka menjadi lebih baik,” kata Ngabalin.
Di akhir pernyataannya, Ngabalin menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan ditentukan oleh kemewahan yang dimiliki, melainkan manfaat yang dirasakan masyarakat melalui hadirnya pelayanan publik yang lebih baik.
“Pemimpin besar tidak perlu bergaya besar. Pelayanan kepada rakyat sudah cukup untuk membesarkan namanya. Saya berharap semakin banyak pemimpin Indonesia yang belajar tentang kesederhanaan, kelemahlembutan, dan kebijaksanaan, meski harus sampai ke negeri China,” pungkasnya.