menjadi suatu fenomenon.[/caption]
Rahman Tolleng, meski tak pernah menjadi anggota PSI secara formal, adalah seorang tokoh Gemsos –Gerakan Mahasiswa Sosialis– yang senantiasa dikaitkan dengan PSI. Tapi sebenarnya, Gemsos bukan onderbouw PSI seperti halnya Gerakan Pemuda Sosialis. Tan Malaka maupun Rahman Tolleng, menurut perbincangan itu, sama-sama merupakan kaum pergerakan –sekaligus ideolog dengan gagasan-gagasan dan pemikiran yang original– yang amat lekat dengan pemikiran berdasar konsep materialisme-dialektis dan mengutamakan logika dalam sepakterjang politiknya masing-masing. Memiliki pula romantisme pergerakan bawah tanah yang sama. Dalam hal tertentu, memiliki dan menjalani misteri kehidupan yang serupa. Hanya saja, keduanya tak mudah –untuk tidak mengatakannya tak mungkin– diperbandingkan, karena mereka berada dalam dimensi waktu dan ruang yang berbeda dalam kegiatan perjuangan politik mereka. Sehingga juga memiliki posisi berbeda dalam catatan sejarah.
Rahman Tolleng sendiri samasekali tak pernah punya pretensi dan mempersamakan diri dengan Tan Malaka, meskipun ia juga mengagumi Tan Malaka yang berada dalam urutan waktu lebih awal dalam pergerakan politik. “Saya samasekali tidak bisa disamakan dengan Tan Malaka,” ujar Rahman Tolleng di tahun 2007. Tapi Rahman tidak menjelaskan apa-apa lagi lebih jauh. Dan barangkali memang tidak tepat untuk mempersamakan Rahman Tolleng dengan Tan Malaka, dari arah Rahman maupun dari arah Tan Malaka. Tetapi bagaimanapun, Rahman adalah seorang tokoh pergerakan mahasiswa (pada awalnya) yang juga telah melalui sejumlah masa yang panjang sebagai aktivis gerakan bawah tanah seperti halnya Tan Malaka.
Dalam kaitan ideologi ini, tentu menjadi menarik mengikuti catatan Marzuki Darusman seorang aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1966 dan 1970-an, yang juga kerap menganalogikan Rahman Tolleng dengan Tan Malaka, yang untuk sebagian dapat dibaca dalam referensi tema sebuah buku mengenai Rahman Tolleng yang sejak lama saya susun namun belum kunjung rampung. Judul yang saya rencanakan adalah ‘Mimpi Buruk Politik Indonesia – Kisah Rahman Tolleng, Politisi Separuh Legenda’.
Orientasi teoritis baru tentang Ideologi
Marzuki Darusman menggambarkan adanya suatu suasana pencarian ideologi dengan makna dan orientasi teoritis baru sebagai alternatif terhadap marxisme dan liberalisme yang dilakukan sejumlah kaum muda selama ini. Namun untuk sementara –khususnya dalam empat tahun terakhir ini– suasana pencarian itu seakan terbenam dalam hiruk pikuk politik yang secara kualitatif mengalami degradasi pada situasi pembelahan masyarakat yang tak masuk akal.
Ideologi alternatif dengan makna dan orientasi teoritis baru itu adalah social democracy atau demokrasi sosial. Tapi pencarian ini tentunya tidak mengurangi arti Pancasila sebagai ideologi bangsa, karena di sini bukan ideologi yang dipersoalkan, melainkan membahas orientasi ideologinya. “Tidak mengherankan bila dalam proses pencarian yang dilakukan generasi muda dan masyarakat pada suatu orientasi teoritis yang mempunyai sifat atau corak ideologis itu, lalu ada gerak pemikiran dan analisis yang mengungkit kembali soal-soal yang berhubungan dengan masalah demokrasi sosial.”
Sebagai konsekuensi ikutannya, ini semua lalu menyebabkan juga terjadinya pencarian tokoh-tokoh yang lebih diasosiasikan dan dihubungkan dengan masalah ideologi demokrasi sosial tersebut. “Dalam batas tertentu, sosok Rahman Tolleng menjadi suatu perhatian, karena dialah satu-satunya tokoh yang masih hidup dan diketahui betul dalam segala sepak terjang perjuangannya secara terbuka menyatakan berdiri di posisi tersebut, selain tentunya Sutan Sjahrir, Tan Malaka dan yang lainnya.” Namun berbeda dengan tokoh lain yang disebutkan itu, Rahman Tolleng masih hadir, dan dalam beberapa tahun terakhir –hingga menghembuskan nafas terakhir Selasa dinihari
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.