[caption id="attachment_25699" align="aligncenter" width="514"]
Arsip ANRI[/caption]
Kabargolkar.com - Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik, yang punya reputasi sebagai musuh Orde Baru, punya cerita miring tentang Suprapto Sukowati. Kata Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995), Sukowati alias Pingji “terkenal karena satu daun telinganya dipotong oleh seorang kapten anak buahnya karena ia selingkuh dengan istri kapten itu.”
Lepas dari cerita miring tersebut, di kehidupan nyata Sukowati adalah sosok yang sangat dihormati, setidaknya di masa Orde Baru. Dia dikenang sebagai Ketua Umum Golkar kedua setelah Djuhartono.
Sebelum menjadi Ketua Umum Golkar, Sukowati adalah perwira penting di Angkatan Darat, tapi bukan urusan tempur. Dia lebih banyak menangani hubungan tentara dengan sipil. Sukowati bersama kawan-kawannya, menurut Junus Jahja dalam Catatan Seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (1989: 44), “membentuk macam-macam Badan Kerjasama (BKS) golongan-golongan Karya dan Militer seperti BKS Buruh Militer, BKS Seniman Militer, BKS Pemuda Militer dan lain-lain.”
Selain itu dia kemudian mengurusi Badan Pembina Potensi Karya (BPPK) dan pernah pula mengurusi Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FBPIB). Semua badan itu ditangani perwira menengah seperti Letnan Kolonel Harsono, Kolonel Djuhartono, Letnan Kolonel Amir Moertono, dan Letnan Kolonel Isa Idris. Semua perwira itu bertanggung jawab kepada Kolonel Sukowati selaku Inspektur Jenderal Teritorial dan Pertahanan. Organisasi macam BPPK itu, menurut David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 287), dikoordinasikannya sejak 1957.
Bekas komandan peleton tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) bikinan Jepang ini pada masa Revolusi bertugas di Jawa Timur. Dia sempat menjadi komandan ekspedisi ke Negara Indonesia Timur pada 1950. Pernah juga menjabat komandan resimen di Kediri pada 1950-an. Hingga 25 Oktober 1965 dia adalah Asisten 5/Teritorial Panglima AD dan pada Januari 1966 dia dijadikan Deputi Pembinaan Khusus di ABRI. Karier militernya tidak mentereng setelah Letnan Jenderal Ahmad Yani terbunuh.
Setelah 1966 Sukowati, yang sudah mayor jenderal, bukan pejabat strategis di militer. Dia malah menggantikan Brigadir Jenderal Djuhartono sebagai Ketua Umum Sekber Golkar. Wakil-wakilnya saat itu adalah Mayor Jenderal Djamin Ginting dan Mudjono. Sekretarisnya Kolonel Dr. Amino Gondohutomo. Bertindak sebagai juru bicara adalah Brigadir Jenderal Sugandhi, bekas ajudan Presiden Sukarno yang mendirikan MKGR.
Soeharto dan Sekber Golkar
Sekber Golkar semula lahir sebagai gabungan dari Front Nasional dengan organisasi atau golongan kekaryaan, di mana Brigadir Jenderal Djuhartono sebagai ketua umum pertamanya. Di masa Djuhartono—yang dikenal sebagai pemuja Sukarno—Sekber Golkar masih dianggap dekat dengan Sukarno. Namun Djuhartono dan pemimpin yang dicap loyalis Sukarno lain seperti Drs. Imam Pratignjo dan J.K. Tumakaka akhirnya tersingkir. Naiklah kemudian Sukowati.
Di zaman Sukowati, seperti dicatat David Reeve, Sekber Golkar melangkah pasti bersama Soeharto dan Angkatan Darat, yang menjadi pemenang dalam pertarungan politik nasional setelah Sukarno tumbang. Golkar makin hari makin kuat dengan makin banyaknya organisasi yang ingin bergabung. Di masa Sukowati pula Golkar dirombak pengurusnya, demi kesolidan organisasi