[caption id="attachment_27759" align="aligncenter" width="640"]

Aburizal Bakrie (ARB) saat masih Menko Kesra di Papua bersama Tentara OPM yg kembali ke NKRI dan di Jakarta menerima menerima pendiri OPM yg kembali ke NKRI Nicolass Jouwe pada tgl 20 Maret 2009. (flickr: Aburizal Bakrie)[/caption]
kabargolkar.com -
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) menuliskan pengalamannya menangani bencana kelaparan di Yahukimo dan konflik dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) saat masih menjabat Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) 2004-2009 dalam blognya pada tanggal 22 September 2011.
Dalam berbagai acara, saya sering ditanya mengenai masalah Papua. Apalagi beberapa waktu lalu saat terjadi gejolak di Papua, banyak yang bertanya kepada saya, baik di acara maupun secara pribadi, bagaimana saya melihat Papua dan bagaimana menyelesaikan masalah yang ada di sana.
Karena itu, melalui blog ini, saya akan kembali mendiskusikan mengenai Papua, baik menyangkut pengalaman, maupun cara pandang saya terkait solusi permasalahan di sana. Sebenarnya di blog ini, saya juga sudah menulis mengenai Papua, yaitu cerita pengalaman saya selama tinggal di sana saat menangani kelaparan di Yahukimo.
Saat saya menjadi Menko Kesra, alhamdulillah, bisa dibilang tidak ada kekerasan dan kerusuhan di Papua. Ini karena saya lebih memilih pendekatan kesejahteraan dibandingkan dengan pendekatan keamanan. Pengalaman saya di sana membuktikan hal itu.
Saya masih ingat betul saat pertama kali pergi ke pegunungan Yahukimo, pada saat itu Asintel Pangdam melarang saya ke sana dengan alasan keamanan karena di sana ada pasukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dikhwatirkan membahayakan keselamatan saya. “Pak, kami tidak ada pasukan di situ. Bagaimana keamanannya? Nanti saya dipecat,” katanya.
Namun saya tetap memaksa untuk tetap ke sana dan mendarat di pegunungan itu. Mengenai bagaimana kondisi alam dan susahnya mencapai daerah itu saya sudah ceritakan di tulisan sebelumnya. Saya mengatakan kepada Asintel Pangdam itu: “Saya tetap mendarat di sana dan tanggung jawab saya ambil alih.”
Maka mendaratlah saya ke daerah pegunungan Yahukimo. Setelah saya mendarat di sana, kekhawatiran akan adanya penyerangan atau gangguan keamanan tidak terbukti. Yang saya temui justru sebaliknya. Bukannya diserang, saya justru malah dipeluk-peluk dan diberi hadiah dua ayam jago.
Dua ayam itu relatif mahal bagi mereka. Karena itu, saat diberi saya sempat kaget, terharu, dan sempat menolak, karena pasti lebih berguna bagi mereka. Namun, mereka bilang bahwa hadiah itu tidak boleh ditolak, karena menolak sama saja dengan menghina. Lalu saya terima ayam itu dan mulai berbaur dengan penduduk untuk mencari solusi mengatasi masalah kelaparan di sana.
Singkat cerita, akhirnya kerja keras berbulan-bulan di Yahukimo membuahkan hasil. Kelaparan bisa diatasi dengan mengajarkan mereka cara bercocok tanam yang efektif dan cara hidup sehat. Tidak hanya itu, saya di sana juga membangun infrastruktur dan sarana umum bagi warga. Ada sekolah, puskesmas, dan lain sebagainya