Kenegarawanan Habibie dan Detik-detik yang Tak Akan Terlupakan
Kabar Golkar 13 September 2019
pembukaan Seri Dialog Pembangunan CIDES pada awal tahun 1993. Dalam tulisan ini, saya banyak mengangkat memori tentang pengalaman diskusi soal ekonomi dan pembangunan dengan Pak Habibie. Kami sering berdiskusi bahkan di ruangan privat.
Ada kisah menarik, saat menjelang pertemuan, beliau menanyakan apakah sudah makan atau belum. Ketika kami menjawab belum, Pak Habibie tidak menjawab tetapi langsung berlari ke dapur untuk memasak nasi goreng yang ternyata disuguhkan untuk kami. Ini kenangan indah dan pembelajaran yang luar biasa. Jiwa demokratis dan egaliter seorang Habibie benar-benar lahir dari nuraninya yang terdalam. Ia sangat humble dan supel sehingga banyak berkorban untuk menyenangkan banyak orang dari banyak golongan. Inilah detik-detik yang tak akan pernah terlupakan.
Solusi Cerdas, Tegas dan Bernas
Usai dilantik menjadi presiden, permasalahan ekonomi yang dihadapi Habibie, membutuhkan penyelesaian yang sangat serius. Dan bersama jajaran Kabinet Reformasi Pembangunan, ia mampu menjawabnya dengan jurus-jurus khas teknokrat. Konsep ekonomi memang bertebaran di sejumlah belahan dunia. Namun bagus atau tidak konsep-konsep tersebut, tergantung pada seberapa cerdas, tegas dan bernas seorang pemimpin memilih dan menganalisis satu di antaranya untuk disesuaikan dengan kondisi rill di suatu negara.
Krisis ekonomi kala itu, sangat menghantam daya beli masyarakat. Sejumlah koorporasi kolaps. Perbankan luluh lantak. Pada sisi lain, Habibie harus bisa mengembalikan krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Beberapa contoh kecil tanda percepatan pemulihan ekonomi ala Habibie, yakni membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semula di posisi Rp 17 ribu menjadi Rp 7.000. Inflasi yang semula double digit pun bisa dibalikkan keadaannya di masa pemerintahan yang relatif singkat.
Agenda pemulihan confidence di sektor keuangan dan koperasi masa Pemerintahan Habibie menuai risiko biaya yang sangat mahal. Pada akhirnya langkah tersebut berhasil. Meski terhantam masalah ekonomi yang tidak ringan, Habibie tidak pernah menyalahkan kondisi eksternal. Padahal, bisa saja dia menyalahkan dampak krisis ekonomi Thailand yang kala itu memang tengah bermasalah. Tapi, Habibie tidak melakukannya. Sebab, ia fokus memperbaiki bidang struktural dan pemantapan koordinasi.
Bapak Demokrasi, Teknologi dan Kemerdekaan Pers
Selain ekonomi dan pembangunan, ada beberapa hal yang menjadi monumen abadi dalam detik-detik pembuatan kebijakan Pak Habibie yang tak akan terlupakan oleh anak-anak bangsa. Pertama, dalam hal demokratisasi, Habibie adalah pilar utama bangsa. Ia berperan penting dalam meletakkan fondasinya. Saat dilantik menjadi presiden pada medio 1998, banyak yang meragukan Habibie saat memilih untuk menerapkan sistem demokrasi.
Dari sudut pandang ekonomi, banyak yang menyangsikan demokrasi akan bertahan di Indonesia. Sebab, banyak ekonom yang memprediksi RI baru bisa menerapkan sistem politik tersebut jika pendapatan perkapitanya di atas USD 6.000. Saat itu, pendapatan perkapita Indonesia jatuh ke angka 610 dolar AS.
Sejarah mencatat, Habibie kerap memasang badan saat kami para akademisi yang tergabung di CIDES menggelar diskusi mengenai demokrasi dan HAM, harus berurusan dengan pihak keamanan. Dan Habibie selalu memberikan dukungan dan perhatiannya.
Di tengah keraguan banyak pihak atas transformasi politik dari otoritarian ke era reformasi, Habibie tetap teguh dengan pendiriannya dan memberi ruang yang luas bagi terbangunnya demokrasi. Bahkan, saat itu sejumlah pihak menilai Habibie tengah bereksperimen dengan mencangkokkan demokrasi ke Indonesia. Namun apa yang dijalankan bukanlah eksperimen, tetapi komitmen untuk membangun demokrasi yang akan terus berlanjut.
Kini reformasi telah melahirkan era keterbukaan, Habibie membuka keran kebebasan
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.