[caption id="attachment_28342" align="aligncenter" width="750"]

Presiden ke-3 RI BJ Habibie[/caption]
Oleh: Ricky Rachmadi, Dewan Pakar ICMI
kabargolkar.com - Tanggal 1-11 September 2019, adalah detik-detik yang tak akan pernah terlupakan dalam sejarah Indonesia. Detik-detik ketika anak-anak bangsa luruh dalam tangis. Detik-detik ketika tokoh besar tergolek lemah dalam perawatan di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.
Seperti judul buku yang ia tulis: “Detik-Detik yang Menentukan”, Rabu (11/9/2019) pukul 18.05 WIB, saat azan Maghrib berkumandang, Allah memanggil ke haribaan-Nya. Jutaan kepala tertunduk haru, air mata tumpah membasahi Bumi Pertiwi. Presiden ke-3 RI, Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, berpulang ke Rahmatullah.
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.
Tak terhitung catatan heroisme dan kenegarawanan Pak Habibie. Hari ini, hampir setiap media massa dan media sosial berlomba-lomba mengenang, mengulas, mengupas berbagai gebrakan teknolog superjenis dan religius ini, dalam menjaga keutuhan, menyelamatkan dan memajukan NKRI.
Betapa tidak, efek krisis ekonomi regional dan global pada 1998 yang berimbas pada situasi nasional, membuat stabilitas politik dan keuangan terguncang. Dan seperti pepatah, “badai selalu melahirkan nakhoda tangguh”, Habibie tampil menyuntikkan solusi sehingga Republik tak perlu teramputasi.
Nasi Goreng dan Habibienomics
Saya mengenal sosok Habibie saat namanya melambung tinggi sebagai ahli pesawat terbang dan sukses menjadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) era Presiden Suharto hingga memimpin Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Saya ikut bergabung dengan ICMI dan turut menggagas dan mengelola Center for Information and Development Studies (CIDES): sebuah lembaga
think thank untuk menggagas perbaikan dan pembangunan bangsa. Dari sini-lah melambung ide-ide
Habibienomics.
Unsur penting Habibienomics adalah titik tolak bahwa pengembangan
human capital atau sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi adalah penggerak utama (
driving force) pembangunan ekonomi. Sekalipun Habibie mengembangkan gagasannya dari sudut pandang seorang teknokrat, namun gagasan dasarnya bersesuaian dengan kecenderungan baru dalam teori ekonomi yang dipelopori para ekonom muda ketika itu, seperti Paul Krugman, Elhanan Helpman, Laura D'Andrea Tyson. James Brander dan Barbara Spencer yang terutama berpusat di Departemen Ekonomi, MIT, AS.
Kecenderungan baru pemodelan ekonomi ini membuat gusar para pakar ekonomi arus utama (
mainstream). Karena, pergeseran yang tajam dalam pemodelan ekonomi dari asumsi pasar sempurna (
perfect market), dari skala ekonomi tidak berubah (
constant return to scale) kepada skala ekonomi meningkat (
increasing return to scale).
Yakni, sebagai akibat pengaruh dari luar atau eksternalitas dan persaingan kompetitif atau
monopolistic competition dari perlakuan teknologi sebagai variabel eksogenus kepada teknologi sebagai variabel endogenus; dari perlakuan tenaga kerja semata-mata sebagai faktor produksi kepada pengembangan SDM; dari informasi sempurna (
perfect information) kepada informasi asimetries (
asymmetric information) dari keunggulan komparatif (
comparative advantage) yang bertumpu pada
economies of scale karena terkonsentrasinya pekerja terampil dan industri tertentu bernilai tambah tinggi; dan dari penekanan pada efisiensi Ricardian yang bersumber pada buruh murah kepada efisiensi Schumpetarian yang bersumber pada inovasi teknologi.
Konsep pembangunan ekonomi ini, disampaikan Prof