banyak cobaan dan konflik. Partai Golkar tidak gagal melajukan kaderisasi, karena struktur mereka sudah berjalan. Kekuatan utama Golkar juga bukan personal ataupun kader.
“Tapi yang bikin Golkar kuat adalah sistem partai, aturan partai, dan ideologi partai. Walaupun dihajar, katakanlah oleh pecahannya, tapi tetap dapat suara banyak,” ujarnya.
Alfarisi menjelaskan, kemelut di Partai Golkar menjelang Munas 2019 terjadi karena beberapa faktor. Pertama, terkait dengan tata kelola partainya. Sebab, sejak 2014 sampai sekarang, Partai Golkar terus menerus silih berganti, sehingga muncullah dualisme kepemimpinan. Setelah dualisme itu mereda, muncul lagi isme-isme yang lain.
“Kedua, selain pengelolaan partai, ada lagi persoalan komunikasi bagi elite-elite partai terhadap kader kader partai secara struktural, fungsional di dalam tubuh partai politik, baik dari lingkaran politik maupun dari pimpinan pusat ke pimpinan daerah,” kata Alfarisi.
Sementara, yang ketiga, persoalan kepemiminan dalam partai sangat menentukan. Menurut Alfarisi, di negara-negara Barat leadership itu menjadi simbol dari partai politik sehingga mampu bertahan. Jika elite partai tidak mampu memberikan edukasi yang baik secara politik di dalam kader, partai yang mereka kelola bakal mengalami ejakulasi kepemimpinan politik.
“Sehingga relatif partai tersebut, meskipun partai besar, maka dia dianggap partai-partaian, dianggap besar dari situasi politik, namun dalam proses lobi-lobi politik, dia tidak dianggap,” ujar dia. (
inews)