[caption id="attachment_30796" align="aligncenter" width="700"]

Para pendukung Partai Golkar bersorak saat rapat umum di Jakarta, Indonesia, Sabtu, Indonesia, 28 Maret 2009. Indonesia sedang bersiap untuk pemilihan legislatif pada bulan April dan pemilihan presiden langsung kedua pada bulan Juli tahun ini. AP / Achmad Ibrahim[/caption]
kabargolkar.com - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengusulkan mantan Ketua DPR Bambang Soesatyo menjadi Ketua MPR periode 2019-2024. Setelah usulan itu terealisasi, Bamsoet yang awalnya berebut kursi pimpinan Partai Golkar sepakat mendukung Airlangga kembali merebut tampuk kekuasaan Partai Golkar.
“Terima kasih juga untuk ketua umum saya, Pak Airlangga Hartarto,” kata Bambang Soesatyo di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/10/2019). Sehari berselang, pria disapa Bamsoet kembali menegaskan “Tidak ada lagi persaingan, [konflik] kita [saya dan Airlangga] sudah selesai.”
Persaingan yang dimaksud Bamsoet terkait perebutan kursi Ketua Umum Partai Golkar periode selanjutnya yang memanas sejak medio 2019. Meski Airlangga hanya menggantikan posisi Setya Novanto di tengah jalan, tapi masa jabatannya tetap akan berakhir pada saat Musyawarah Nasional (Munas) Golkar Desember 2019.
Airlangga sendiri masih mengincar posisi ketua umum setelah memastikan diri maju dalam pemilihan di Munas 2019. Namun, beberapa kader Partai Golkar menilai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini gagal membawa Golkar sukses dalam pemilu legislatif 2019 lalu. Rangkap jabatan sebagai menteri dan ketua umum menjadi salah satu alasan desakan tersebut.
Bamsoet adalah satu nama paling kuat yang mendapat dukungan kader Partai Golkar untuk menggulingkan Airlangga. Wakil Koordinator bidang Pratama Partai Golkar ini juga mendukung percepatan Munas, yakni Munas luar biasa (Munaslub) pada bulan Oktober 2019.
Jika Munas dipercepat, ada kemungkinan Bamsoet--yang belum lama meletakan jabatan sebagai Ketua DPR, akan menang dari Airlangga. Salah satu poin positif bagi Bamsoet selama ini karena pamornya sebagai wakil rakyat.
Konflik keduanya makin meruncing. Pada Agustus 2019, terjadi pelemparan molotov ke kantor DPP Partai Golkar oleh orang tak dikenal. Ricuh di kantor DPP Partai Golkar belum selesai. Kali ini giliran Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) kubu Bamsoet yang membuat keributan.
Mereka mendatangi kantor DPP Partai Golkar dan mendesak agar rapat pleno diselenggarakan. Jika tidak, maka mereka akan menduduki kantor DPP Golkar. Usaha ini gagal. Tapi, kejadian sama terulang tiga hari kemudian,. Kali AMPG Bamsoet berhadapan dengan AMPG kubu Airlangga. Pengamanan polisi akhirnya berhasil meredakan keributan sebelum kontak fisik terjadi. Kubu Bamsoet pun membubarkan diri.
Awal September 2019, kubu Bamsoet hendak mengadakan pleno di kantor DPP Partai Golkar. Masih terbentur penjagaan kader Golkar kubu Airlangga dan polisi, akhirnya pleno batal digelar sesuai rencana awal. Rapat kemudian dihelat di Hotel Sultan. Dalam rapat pleno itu, kubu Bamsoet menghasilkan desakan kepada Airlangga untuk menggelar pleno.
Setelah Bamsoet resmi menjadi Ketua MPR, desakan pleno itu hilang kendati Airlangga belum merestuinya. Setelah Bamsoet sadar mendapat kursi Ketua MPR dari Golkar, sikapnya berubah 180 derajat