[caption id="attachment_32802" align="aligncenter" width="1024"]
Meutya Hafid di Bali Democracy Forum ke-12, Jumat (6/12/2019). (kabargolkar.com)[/caption]
kabargolkar.com, DENPASAR - Pergelaran Bali Democracy Forum (BDF) ke-12 yang dimulai sejak Kamis (5/12) kemarin di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, resmi ditutup.
Hari ini, Jumat (6/12/2019), kegiatan forum yang memfasilitasi dialog melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengelola keanekaragaman yang mendorong kesetaraan, saling pengertian dan rasa hormat ini resmi ditutup.
Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, mendapat kehormatan menutup acara Bali Democracy Forum ke-12 tersebut. Pada tahun ini, fokus pembahasan Bali Democracy Forum menyoroti peran penting perempuan sebagai salah satu pilar demokrasi yang inklusif. Sebagai informasi, BDF 12 dihadiri oleh 91 negara dan 7 organisasi internasional.
Berdasarkan pantauan
kabargolkar.com, Jumat (6/12/2019), dalam pidato penutupan BDF 12, Meutya menyatakan bahwa dirinya mendukung tema BDF yakni Demokrasi yang Inklusif. Ia pun menambahkan bahwa dirinya mendorong pengakuan atas prinsip kesetaraan hak politik dan persamaan derajat bagi kaum perempuan.
"Pengakuan atas prinsip kesetaraan hak-hak politik dan persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki berawal dari keyakinan bahwa negara demokrasi perlu memfasilitasi seluruh suara masyarakat dari berbagai kalangan," jelas politisi perempuan Partai Golkar ini.
Lebih lanjut, Meutya mengatakan bahwa salah satu upaya meningkatkan kualitas demokrasi yaitu dengan lebih melibatkan kaum perempuan dalam setiap proses demokrasi.
"Dengan demikian salah satu upaya dalam peningkatan ketahanan demokrasi tersebut adalah peningkatan keterlibatan kaum perempuan terhadap proses demokratisasi sebagai salah satu langkah penerapan inklusivitas demokrasi," ujarnya. (kabargolkar)