[caption id="attachment_32875" align="aligncenter" width="720"]
Dyah Pitaloka Soeriadiredja (Akun Facebook pribadi).[/caption]
Dyah Pitaloka, Duta Khusus Karaton Sumedang Larang
kabargolkar.com, JAKARTA - Filsafat dasar kepemimpinan berkaitan dengan hakikat dasar manusia. Dalam membentuk sistem sosial, manusia bertumpu pada proses pemikiran dan strategi kepemimpinan.
Pada artikel saya sebelumnya, bahwa wujud karakter budaya terbentuk dari cara pandang, pemikiran, sikap dan perilaku seseorang.
Cara pandang dengan kata lain salah satunya adalah proses menganalisa dan menyimpulkan suatu kendala yang terjadi pada diri sendiri ataupun lingkungan. sehingga nantinya ada yang dikatakan solusi.
Baca bagian ke-1:
Penguatan Jati Diri Bangsa Menuju Indonesia 2045
Pemikiran bisa dikatakan adalah sebuah proses berpikir yang nantinya akan menjadi ide atau gagasan sehingga menjadi konsep intelektual yang bernilai tinggi.
Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Tingkah laku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. kental kaitannya bahwa perilaku seseorang adalah salah satu bentuk proses penguatan jati diri. Maka dari itu, suatu bentuk strategi kepemimpinan seseorang dapat dikatakan strategi penguatan jati diri kita sebagai makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial kita harus lebih sering menstimulasi keinginan bersosialisasi antar lingkungan dan mengurangi sentimen rasial antar grup secara signifikan agar penguatan jati diri generasi bangsa menuju 2045 dapat terlaksana dengan semestinya mengikuti alur Visi Negara Kesejahteraan 2045.
Penguatan Jati diri tercermin dalam nurani setiap individu. walaupun peran yang dimainkan cenderung berkelompok, tetapi bagaimana pengelompokkan itu seharusnya dapat menjadi bagian dari filosofi manusia sebagai makhluk sosial.
Masuknya teknologi dan modernisasi yang besar, bukan berarti kita sebagai bangsa Indonesia melupakan jati diri kita yang tercermin dalam orientasi nilai-nilai luhur.
Dalam memberi corak warna penguatan karakter jati diri bangsa, bisa diterapkan dengan menunjukkan kebanggaan, kekuatan, kepercayaan diri dan kebahagiaan.
Rasa memiliki sebagai bangsa indonesia dengan tidak melupakan Jati diri bangsa akan memberikan kehangatan dan mempererat pertalian sesama manusia serta turut membawa kita melakukan berbagai hal satu sama lain. Menerapkan toleransi kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dapat membawa kita ke arah yang lebih baik.
Sebagai bentuk penguatan jati diri sebagai bangsa Indonesia, mari kita mulai dengan menerapkan nilai-nilai keluhuran demi untuk Menuju Indonesia 2045. (*)