Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Political Will dalam Menjaga Industri Pesawat Dirgantara
  Muhammad Said   24 Juli 2020
Hanggar pembuatan pesawat PT Dirgantara Indonesia

Opini Ricky Rahmadi, Pengamat sosial politik dan mantan pemimpin redaksi HU Suara
Karya

kabargolkar.com - Dalam riwayat perjalanan dunia penerbangan Nusantara, tentu orang tidak akan melupakan aksi heroik masyarakat Aceh yang secara gotong royong membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bertempat di Hotel Kutaraja Aceh pada 16 Juni 1948, dipimpin Presiden Soekarno bersama Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsyi, masyarakat Aceh mengumpulkan sumbangan setara dengan 20 kilogram emas yang digunakan untuk membeli pesawat angkut pertama yang dimiliki Indonesia. Peristiwa ini dianggap sebagai cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, pasca-kemerdekaan, upaya Presiden Soeharto untuk membangun industri dirgantara nasional yang mandiri dan berdaulat pun tidak berhenti. Sejak 1960 sampai 1964, Pemerintah Indonesia mengirim Nurtanio Pringgo Adisuryo ke Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI) di Filipina. Bersama rekan-rekannya, marsekal udara kelahiran Kandangan Kalimantan Selatan yang meninggal di Bandung Jawa Barat itu, belajar industri kedirgantaraan di negeri Aquino. Setelah kembali, Nurtanio diberi tugas memimpin Lembaga Persiapan Industri Penerbangan.

Meski Presiden Soekarno jatuh karena peristiwa politik, tetapi upaya membangun industri dirgantara nasional memang tidak berhenti. Presiden Soeharto meski dianggap sebagai orang yang terlibat menurunkan Presiden Soekarno, terus melanjutkan upaya pendahulunya. Bahkan bisa dikatakan lebih bersifat masif dan serius. Hal ini bisa dilihat ketika pada 26 April 1976, Indonesia membangun industri pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dipimpin BJ Habibie. Nama perusahaan pesawat terbang yang kemudian berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan kemudian diubah menjadi yang disebut sekarang sebagai PT Dirgantara Indonesia, atau PT DI.

Setelah memiliki perusahaan tersendiri yang bergerak di bidang pesawat terbang, industri pesawat terbang nasional terus berkembang. IPTN tidak hanya mengerjakan proyek pembuatan bagian-bagian pesawat yang merupakan pesanan mitra kerja, juga bergerak membangun pesawat komersial buatan sendiri.

Pada 11 November 1983, IPTN memperkenalkan pesawat pertama produksi mereka bernama CN-235. Sebuah pesawat penumpang sipil kelas menengah bermesin dua ini menjadi pesawat paling diminati banyak kalangan di kelasnya. CN-235 adalah pesawat hasil kerja sama antara IPTN dan CASA dari Spanyol. Karenanya kode awal pesawat ini adalah CN yang merupakan singkatan dari CASA dan Nasional atau Nurtanio.

Tidak berhenti di CN-235, enam tahun berikutnya IPTN memperkenalkan rancangan pesawat keduanya berkode N-250. Pesawat yang terbang perdana pada 10 Agustus 1995 ini menjadi pesawat primadona IPTN dalam upaya merebut pasar di kelas 50-70 penumpang. Berbeda dengan pesawat sebelumnya yang merupakan hasil kerja sama dengan CASA Spanyol, N-250 adalah hasil karya IPTN sendiri. Karenanya, kode pesawatnya yang digunakan adalah N, yang berarti Nusantara atau Nurtanio, bukan lagi CN.

Namun kreasi gemilang industri pesawat terbang nasional milik Indonesia yang tinggal dikembangkan lebih lanjut ini, terputus. Hanya dua tahun setelah N-235 terbang perdana, Indonesia dilanda krisis moneter. Gonjang-ganjing ekonomi ini mau tidak mau berimbas ke IPTN

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.