Karena itu, inilah saatnya kita menikmati kemerdekaan dengan cara berbeda. Kita kini dalam situasi yang penuh rasa persatuan. Dalam menghadapi pandemi, kita bersatu karena musuh kita satu: Corona. Cara mengalahkannya adalah dengan cara tertib dan disiplin menjalankan protokol kesehatan dan tetap menjaga persatuan. Kita memang diminta menutup mulut dengan masker, mungkin itu adalah isyarat agar kita makin bijak bicara. Kita diminta sering-sering mencuci tangan, karena tangan adalah anggota badan yang paling sering bersentuhan dengan hal-hal yang kadang bukan hak kita. Kita diminta menjaga jarak, mungkin itu adalah isyarat agar kita mampu melihat perbedaan dengan cara yang lebih sehat. Kita adalah bangsa yang diberi kenikmatan berbeda dibanding bangsa-bangsa lain di dunia yakni memiliki keragaman suku yang terkaya di dunia. Dan perbedaan itu adalah bibit persatuan, kekayaan yang tak ternilai.
Allah SWT berpesan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antaramu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat, 49: 13).
Mari kita rayakan HUT ke-76 Kemerdekaan RI ini dengan semangat persatuan yang tinggi. Corona boleh mengganggu, tapi kita makin padu. Corona boleh merenggut banyak orang, tapi kita mampu menumbuhkan makna kebidupan lebih baik: Lebih bijak bicara, pintar menjaga kesehatan (lahir dan batin), dan pandai menjaga jarak sehingga makin paham mana yang hak dan mana yang bukan. Dirgayahu RI Ke-76. Merdeka!
-----------
* Penulis adalah Wakil Ketua MPR RI