Oleh: Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad*
kabargolkar.com - Untuk yang kedua kalinya
kita memperingati HUT Kemerdekaan RI dalam suasana tidak menyenangkan: Pandemi Covid-19 masih merajalela dan merengut begitu banyak korban. Bahkan 1-2 bulan menjelang perayaan HUT RI ke-76, angka kasus terkonfirmasi positif Covid-19 justru meningkat dan mencatatkan rekor. Kita boleh masygul, namun ini adalah tantangan kita bersama, bentuk pembelajaran yang maknanya harus kita perjuangkan terlebih dahulu karena tersembunyi di balik semak-semak. Berat tapi harus. Kita harus memperjuangkannya demi meraih kemerdekaan baru dalam bentuk yang lain: Sehat Fisik dan Rohani.
Kita bisa melihat pandemi ini dari kaca mata positif. Tidak berarti kita mengabaikan melainkan bijak menangkap maknanya. Allah SWT tentu sudah mengiringi bencana ini dengan beragam makna, kekayaan lain yang seandainya kita mampu menggali dan mengolahnya, bisa jadi harta yang tak ternilai. Ambil contoh tren yang terjadi di dunia bisnis e-commerce. Sebelum pandemi, menurut Bank Indonesia, nilai transaksi e-commerce Indonesia sekitar Rp205,5 triliun (tahun 2019), namun tahun 2020, di tengah pandemi, nilainya melonjak menjadi Rp266,3 triliun. Ada kenaikan sebesar 30%. Ini kenaikan yang cukup tinggi dan membuat ekonomi kita tidak benar-benar terpuruk. Ada penyangga yang terbangun.
Karena tren tersebut pemerintah berani menargetkan nilai transaksi e-commerce Indonesia tahun 2021 mencapai Rp337 triliun. Ini menunjukkan ada nada optimis yang patut kita dukung. Dan kita pun memasuki dunia yang berbeda karena transaksi online menjadi bagian sehari-hari masyarakat Indonesia. Ini adalah cara kita berkelit dan mengambil manfaat dari situasi sulit. Tidak mudah dan perlu kerja keras. Namun hasilnya luar biasa. Selain itu, yang menikmati perkembangan ini tidak hanya kelas menengah ke atas, pandemi “memaksa” kalangan masyarakat bawah pun belajar menggunakan transaski e-commerce melalui transaksi online yang simpel dan mempraktikkan cara komunikasi baru berbasis internet. Bahkan anak-anak sekolah pun dari kelas satu SD sudah belajar online yang mungkin akan sulit mendorongnya dalam suasana normal.
Ini nikmat yang mungkin tidak banyak yang menyadarinya. Allah SWT selalu menyisipkan kenikmatai di tengah kesulitan. Allah Maha Baik. Nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada manusia amat luas, seperti nikmat iman, kesehatan, rizki dan berbagai nikmat lain yang tidak mungkin dapat dihitung secara matematis.
وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya”.(QS. Ibrahim, 14: 34).
Kenikmatan lain yang kita rengkuh kembali setelah sekian lama dianggap hilang adalah semangat gotong-royong. Ada di antara warga yang terkena Covid-19 dan harus melakukan isolasi mandiri (isoman), para tetangga bergotong-royong membantu memenuhi kebutuhan kehidupannya. Keluarga korban yang isoman dianjurkan untuk tidak keluar rumah agar tidak menulari orang lain sehingga susah untuk masak. Lalu untuk memenuhi kebutuhannya para tetangga memberinya makanan tiga kali sehari, membantu memberikan obat-obatan suplemen untuk membantu penyembuhannya. Makanan digantung di pagar, dan sebagainya. Ternyata pandemi ini telah mempersatukan kita kembali.
Jadi, kita bisa tetap bersyukur dalam suasana sulit pandemi