Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Politik Berkonotasi Positif Menciptakan kebaikan bagi Rakyat, Bangsa dan Negara
  Nyoman Suardhika   10 Oktober 2022
Gredit Photo / Istimewa

Oleh: Tonny Saritua Purba

Kabargolkar.com - 
Kata "Politik" berasal dari Bahasa
Yunani "Polis" berarti kota. Dalam konteks Yunani Kuno saat itu, kota adalah negara. Politik pada awal kelahirannya dipahami sebagai segala daya upaya untuk menciptakan kebaikan bagi Rakyat, Bangsa dan Negara.

Pada awalnya bahwa politik berkonotasi positif untuk menciptakan kebaikan bersama. Negara menjadi sarana untuk menciptakan kebijakan-kebijakan politik untuk mengatur atau mengelola negara, sehingga kebaikan bersama bisa terwujud.

Makna kata "Politik" kemudian mengalami pergeseran sehingga menjadi berkonotasi negatif. Pergeseran terjadi karena politik yang seharusnya diselenggarakn oleh para negarawa, karena merekalah yang memiliki perspektif komprehensif untuk membangun negara.

Politik itu luhur dan mulia tetapi realita kenyataannya politik seringkali justru dikuasai oleh orang-orang dengan kualitas medioker, bahkan bisa lebih rendah lagi hanya karena mereka nemiliki popularitas dan elektabilitas tinggi serta isi tas yang tebal, diantara mereka adalah para "aktor" yang relatif tidak memiliki rekam jejak dalam politik, tetapi menjadi sangat populer karena sering melakukan pertunjukan politik atau media elektronik atau gencar diliput berbagai media.

Saat ini popularitas itu juga dimiliki para "aktor" dalam arti sesungguhnya melalui media infotainment dan elektronik. Politisi medioker dengan kualifikasi tanpa rekam jejak dalam dunia politik melalui iklan politik yg masif dan gencar di berbagai media.

Merekapun menjadi iklan politik yang menampilkan diri sebagai yang bukan karakternya sendiri. Dari sini kekuasaan politik kemudian mengalami degradasi fungsi karena berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk mengelola dan menata sebuah negara.

Selain itu kata politik oleh sebagian besar orang kemudian dipahami scara salah karena dianggap gabungan dua kata "poli" yang berarti banyak dan "tik" yang diartikan sebagai taktik inilah yg menjadi awal mula pandangan keliru bahwa politik adalah "banyak taktik".

Pemahaman ini semakin nemperkuat definisi politik adalah banyak taktik. Definisi dari pemikir politik barat diantaranya Laswell yang megatakan bahwa "Politik sekadar sebagai Siapa mendapatkan Apa, Kapan dan Bagaimana (Who gets What, When and How)".

Tidak pernah terpikir pertanyaan "mengapa" berpolitik Tidak adanya pertanyaan "Mengapa" itulah yg menyebabkan kekuasaan politik menjadi sebuah cita-cita. Jabatan menjadi tujuan akhir dalam aktifitas politik.

Padahal kekuasaan yang merupakan implikasi dari jabatan sesungguhnya sebagai sarana untuk menjawab mengapa kekuasaan mesti diperebutkan dalam mekanisme politik yang kompetitif ? Atau kalaupun ada muncul pertanyaan mengapa mesti berpolitik ?

Jawabannya adalah orientasi material yang disebabkan kedangkalan cara berfikir, telah terjadi karena politik telah dikuasai oleh kalangan medioker yang tidak terbiasa berfikir mendalam, hanya ingin mengubah kehidupan sendiri menjadi lebih baik dengan kekayaan materi yang bisa didapatkn lebih mudah dengan menggunakan kekuasaan politik. Inilah yang menyebabkan politik yang seharusnya baik menjadi bercitra buruk jadi penyebab kerusakan

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.