Kabargolkar.com - Legislator Golkar Nusron Wahid terus menyoroti masalah pada ketersediaan pupuk yang saat ini membuat pusing para petani.
Demi menjaga ketersediaan swasembada pangan, anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini mendesak pemerintah, untuk dapat menentukan langkah politik dalam menciptakan subsidi pupuk yang ideal.
"Para petani Indonesia semakin kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Apalagi sejak hadirnya Permentan Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian," kata Nusron dalam keterangan persnya, Minggu (20/11/2022).
Untuk itu, anggota Komisi VI DPR ini mengusulkan, agar pemerintah dapat mempertimbangkan single price dan model subsidi output untuk pupuk di Indonesia.
"Harapannya, dengan hal ini petani Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri. Juga membantu negara mengatasi ancaman krisis di masa mendatang," ujar Nusron.
"Kalau kita menggunakan model subsidi output, kita enggak perlu lagi ada isu pupuk subsidi dan pupuk non-subsidi. Enggak perlu lagi diutang oleh pemerintah. Enggak perlu lagi para pengecer itu terpaksa harus daftar atau para distributor terpaksa mencari dukungan kanan-kiri untuk menjadi distributor. Saya lebih sepakat kalau pupuk itu memakai single price," tutup Nusron.
Diberitakan sebelumnya, masalah ketersediaan pupuk ini juga sempat disuarakan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam pembukaan KTT G20 2022 di Bali pada Selasa (15/11/2022) lalu.
Jokowi menyinggung tentang krisis pupuk yang harus diselesaikan segera agar tak membuat negara semakin suram di 2023.
"Masalah pupuk jangan disepelekan. Jika kita tidak segera mengambil langkah agar ketersediaan pupuk mencukupi dengan harga yang terjangkau, maka 2023 akan menjadi tahun yang lebih suram. Kelangkaan pupuk akan menyebabkan gagal panen di berbagai belahan dunia. 48 negara berkembang dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi akan menghadapi kondisi yang sangat serius," ungkap Jokowi.
Menurutnya, dunia tengah menghadapi berbagai krisis yang butuh perhatian. Mulai dari pandemi COVID-19 yang belum kunjung usai, perang Rusia-Ukraina, hingga berdampak pada masalah ketahanan panjang dan energi yang mengancam.
"Krisis demi krisis terjadi. Pandemi COVID-19 belum usai, rivalitas terus menajam, perang terjadi. Dampak berbagai krisis tersebut terhadap ketahanan pangan, energi, dan keuangan sangat dirasakan dunia terutama negara berkembang," ujar Jokowi.
Dalam menghadapi salah satu krisis tersebut, yakni krisis ketahanan pangan, pupuk berperan penting untuk negara. Sebab ketersediaan pupuk yang memadai akan dapat meningkatkan hasil pertanian yang lebih baik, secara kualitas maupun kuantitas.
Ketersediaan pupuk secara mandiri juga membantu petani memenuhi kebutuhan pertanian Indonesia, sehingga dapat membantu negara melewati ancaman ketahanan pangan.