Kabargolkar.com - Kurang dari satu semester ke depan, bangsa Indonesia akan melangsungkan
pemilihan umum serentak yang kedua setelah 2019 lalu. Pemilihan Presiden, Wakil Presiden, DPR, DPRD Provinsi, Kota dan Kabupaten serta DPD akan dilakukan pada waktu bersamaan. Pada Pilpres, dengan tiadanya incumbent, yakni Presiden Jokowi, pertarungan diperkirakan akan berlangsung ketat. Sejumlah sigi nasional dan luar negeri menempatkan ketiga nama yang kini muncul—Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo—saling menempel satu sama lain. Meskipun secara akumulatif, Prabowo saat ini mengamankan pole position.
Bursa di Pileg tak kalah dinamis; parpol dan caleg memegang kendali untuk merebut suara rakyat. Jika prediksi koalisi capres, pilpres, dan manuver parpol telah banyak dikupas media setiap harinya, maka tulisan ini akan mencoba menelisik peran penting pemilih muda (Gen-Z dan Milenial) dalam menentukan hasil akhir Pemilu 2024. Kelompok ini sebelumnya diberikan stigma apolitis dan cenderung berjarak dengan politik praktis. Tetapi bila melihat pengaruh mereka di media sosial, tak bisa dipungkiri, Zilenial dan Milenial akan menjadi game changer yang harus diperhitungkan.
Mengapa demikian; pertama, dalam rezim pemilu demokratis dikenal ungkapan one man one vote. Data awal KPU menunjukkan "kekuatan" pemilih muda ini. Lebih dari 60% pemilih berada di rentang usia Gen-Z dan milenial (17-39 tahun). Angka itu ekuivalen dengan 114 juta pemilih, jumlah yang sangat besar tentu saja. Dengan kekuatan barisan muda sebesar itu, kini tak ada partai yang berani meminggirkan mereka dalam menyusun strategi.
Lihat saja, semua partai kini mengubah cara komunikasi politiknya menjadi lebih receh, two ways, dan fun. Itu Zilenial banget. Golkar dan PDIP, dua partai "tua" di republik ini juga melakukan hal yang sama. Baik dalam kampanye di media sosial maupun program-program offline. Begitu juga dengan partai-partai lainnya yang juga melakukan hal serupa.
Kekuatan Media Sosial
Kedua, anak-anak muda yang dianggap apolitis ternyata memiliki kepedulian terhadap isu-isu publik. Mereka mengekspresikan dengan caranya, tidak lagi berdemonstrasi, melainkan memaksimalkan kekuatan media sosial untuk menyuarakan kegelisahannya. Seperti yang dilakukan Bima, anak muda Lampung yang tengah menempuh studi di Australia. Ia mengkritik sarana umum di daerahnya yang amburadul melalui Tiktok. Hasilnya? Video pendeknya menjadi trending topic nasional berhari-hari, hingga Presiden Jokowi berkunjung ke provinsi tersebut dan melakukan percepatan pembangunan jalan-jalan yang rusak parah.
Terkait isu pemilu, hasil pengamatan saya di lapangan, anak-anak muda juga terlibat dalam diskusi isu-isu politik di tongkrongan masing-masing dengan gaya dan perspektifnya. Ini modal positif bagi konsolidasi demokrasi kita ke depan. Pelibatan sebanyak mungkin warga dalam politik menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita.
Ketiga, fenomena regional dan global juga mendukung pengaruh anak-anak muda dalam politik kekinian. Joshua Wong di Hong Kong misalnya, yang masih berusia 18 tahun, menjadi pemimpin aksi protes terbesar di negara kota tersebut selama berminggu-minggu. Ia dan circle-nya menggunakan media sosial untuk menyusun isu, merancang aksi, hingga mobilisasi pelajar dan mahasiswa