Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Pemilih Muda Jadi "Game Changer"
  NINDY   15 September 2023
Credit Photo/ dpr.go.id
telah kembali ke China—yang negara non demokrasi—tetapi perlawanan Wong dan kawan-kawannya memaksa Beijing untuk memberikan kelonggaran di sana.

Hal serupa juga berlaku di Thailand; anak-anak muda menjadi frontline dalam aksi-aksi menentang monarki beberapa tahun lalu, yang membuat Bangkok bak lautan manusia. Perkembangan terkini, partai anak muda Thailand, Move Forward Party (MFP) secara mengejutkan memenangkan pemilu tahun ini. Itu menunjukkan bahwa kekuatan anak-anak muda bukan hanya wacana, melainkan fakta di lapangan.

Di belahan dunia lainnya, "peremajaan" usia politik bahkan mencapai top level di negaranya masing-masing. Para milenial tersebut terpilih melalui pemilu demokratis pada usia 30-an hingga 40-an. Di antaranya Jacinda Ardern (New Zealand), Carlos Alvarado Quesada (Costa Rica), Xavier Espot Zomora (Andorra), Emmanuel Macron (France), Juri Ratas (Estonia), dan Sanna Marin (Finland).

Dalam ilmu politik dikenal azas universalitas, bahwa teori yang berlaku di satu negara, besar kemungkinan juga ditemukan di negara lainnya. Hal tersebut disebabkan, objek penelitiannya adalah manusia, yang—meskipun berbeda dalam tampilan luar—namun memiliki kecenderungan yang sama dalam perilaku.

Maka di awal 1960-an berkembang teori political behaviour, menggantikan structural fungsional. Pendekatan baru ini melihat politik dari perilaku para aktornya, latar belakang aktor tersebut serta lingkungannya. Alih-alih mengamati institusi, lembaga atau konstitusinya semata.

Menjanjikan

Alhamdulilah, hasil riset terbaru menunjukkan, political behaviour pemilih muda pada 2024 nanti juga cukup menjanjikan. Berdasar hasil survei Litbang Kompas, Februari 2023 terlihat bahwa Gen-Z atau kelompok usia 17-26 tahun cenderung tidak ingin golput. Angka Zilenial yang secara sadar ingin Golput hanya 0,6%. Begitu juga Milenial muda yang hanya 1% dan Milenial Tua 1,3%.

Temuan di atas linear dengan hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada September 2022. Kesimpulannya, pemilih muda semakin banyak yang antusias terhadap pileg dan pilpres dalam dua pemilu terakhir. Pada Pemilu 2014, sebanyak 85,9% mengaku ikut mencoblos kertas suara di TPS, lalu pada 2019 angkanya naik menjadi 91,3% yang mengaku ikut pemilu.

Meski keikutsertaan dalam pemilu bukan satu-satunya bentuk partisipasi politik, namun dengan banyaknya anak muda yang mencoblos, menunjukkan bahwa demokrasi memiliki harapan untuk semakin berkembang di masa depan. Saya yakin tak lama lagi para ketua partai, kepala daerah, menteri, bahkan presiden, sangat mungkin diisi anak-anak muda. Oleh karenanya, partai politik sebagai wadah rekrutmen politik, harus mempersiapkan kader-kader mudanya, dan memberi mereka kepercayaan untuk posisi-posisi kunci.

Hanya dengan cara itu parpol akan relevan dengan perkembangan zaman. Bila tidak, maka parpol akan menjadi aterfak yang ditinggalkan anak-anak muda. Itulah game changer, kehadiran anak muda yang mengubah permainan. Mengubah status quo.

Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung 

Ketua Komisi II DPR, Wakil Ketua Umum Partai Golkar

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.