Bicara pertanian tidak bisa dipisahkan dari bicara lahan dan jumlah pelaku tani. Mengapa program Food Estate dan Corporate Farning gagal ? Karena lahan pertanian sangat terbatas, harus mencetak sawah terlebih dahulu, memiliki irigasi tehnis, kedua faktor tersebut tidak mudah dilakukan oleh pemerintah, demikian juga dengan program Corporate Farming harus melibatkan lahan sawah milik petani padi. Selama lahan sawah tidak tersedia maka program Food Estate dan Corporate yang sudah dicanangkan oleh pemerintah akan sulit untuk berhasil.
Menurut saya potensi yang sangat besar adalah memanfaatkan lahan perkebunan, lahan tidur atau lahan kering yang dimiliki oleh pemerintah, jika potensi itu bisa diberdayakan maka program Rice Estate sangat efektif untuk dilakukan. Sistem pertanian skala luas bisa diciptakan, tehnologi dan mesin juga dengan mudah untuk dioperasikan termasuk membangun Rice Mill Unit dan peternakan sapi di dalamnya.
Sebenarnya menanam padi di lahan kering sudah dilakukan oleh leluhur kita dengan menanam padi di saat awal musim hujan seperti yang selama ini dilakukan oleh petani padi tadah hujan, bedanya adalah dalam hal varietas, tidak adanya genangan air, ditanam di hamparan lahan kering, benih padi langsung ditanam tanpa melakukan persemaian terlebih dahulu.
Konsep Rice Estate bisa berhasil asal dilakukan lahan hamparan lahan yang luas di lahan kering, jika program ini dilaksanakan maka 3 tahun ke depan bisa diprediksi pemerintah akan meraih surplus beras bahkan ada peluang bagi para pengusaha untuk berinvestasi mendirikan Rice Estate yang terintegrasi dengan pabrik penggilingan beras untuk industrinya.
Penulis :
Tonny Saritua Purba
Kader Partai Golkar, Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSI