26 September 2020
Corona Melebihi KLB, Sementara DBD Minus Perhatian!
  Witarmin
  11 Maret 2020
  • Share :
Nyamuk Aedes Aegypti yang dapat menularkan DBD

oleh Lalu Mara Satriawangsa, kader Partai Golkar

epicentrum.co.id - Sepanjang Januari-Maret 2020, ada 16 ribu kasus deman berdarah dengue (DBD) yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia telah merenggut nyawa 100 orang meninggal. Di periode yang sama, dunia dikagetkan dengan penyebaran virus Corona yang dimulai dari kota Wuhan China. Meski di Indonesia kasusnya masih rendah, hingga saat ini tercatat 23 orang yang diduga terinspeksi (suspect) virus Corona, dan belum ada yang meninggal.

Perbedaan perhatian dan antisipasi yang ditunjukkan pemerintah dan publik sangat kontras. Virus Corona menimbulkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai masyarakat jadi impulsif. Menimbun barang dan masker, sebuah peristiwa di luar akal sehat.

Pemerintah memberikan perhatian demikian besar, sampai-sampai menunjuk juru bicara khusus mengenai perkembangan virus Corona. Berbagai upaya dilakukan, termasuk menyiapkan rumah sakit dan menjaga pintu masuk dan keluar Indonesia.

Tanpa menganggap remeh virus Corona, apakah mesti seluruh perhatian mesti dicurahkan kepada penanganan virus Corona? Penanganan dan perhatiannya seolah-olah di Indonesia sudah darurat, melebihi kejadian luar biasa (KLB).

Sementara di waktu yang sama kasus DBD di berbagai wilayah Indonesia meningkat signifikan dan sudah menelan korban 100 jiwa tapi minim perhatian dan tidak dianggap sebagai kejadian luar biasa.

Kalau dilihat dari karakteristik sosial, yang diduga terinspeksi virus Corona adalah warga yang baru pulang dari luar negeri, tingkat ekonominya mampu dan kalangan berpendidikan. Dari strata sosial tak sulit bagi mereka untuk langsung ke rumah sakit terbaik tanpa perlu mengurus BPJS.

Sementara korban DBD lebih banyak masyarakat tidak mampu. Bila ke rumah sakit harus terlebih dahulu mengurus BPJS, mengurus ruang rawat inap dan urusan administrasi lainya.

Melihat jumlah kasus dan korban jiwa yang meninggal, semestinya pemerintah memberikan perhatian besar pada kasus DBD dengan menginstruksikan pemerintah daerah untuk melakukan tindakan preventif dengan memberantas sarang nyamuk di daerahnya. Selain itu, pemerintah menginstuksikan kepada rumah sakit seluruh Indonesia agar siap sedia logistik untuk tes DBD dan memprioritaskan penangan pasien DBD. Dan menaikkan statusnya jadi KLB!

Sampai saat ini. kematian paling banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat dan Jawa Timur. Merujuk catatan Kemenkes, pasien terjangkit DBD dibagi menjadi 5 klasifikasi. Di antaranya, usia di bawah satu tahun 2,13 persen, usia 1-4 tahun 9,23 persen, usia 5-14 tahun 41,72 persen, usia 15-44 tahun 37,25 persen dan pasien di atas 44 tahun sebanyak 9,67 persen.

Pemerintah jangan berprilaku seperti pribahasa, gajah di puluk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Perhatian pemerintah pada kasus Corona sangat berlebihan melebihi KLB, tapi kasus DBD minus perhatian. Virus Corona ini menunjukkan watak asli orang Indonesia yang sudah tidak Pancasilais, impulsif dan mau hidup sendiri. (vivanews)

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.