Kabargolkar.com - Anggota Parlemen Mukhamad Misbakhun buka suara, terkait pernyataan keras Bank Dunia hingga Dana Moneter Internasional (IMF) yang memprediksi 60 negara di dunia akan mengalami kesulitan dalam perekonomiannya.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, pernyataan IMF dan Bank Dunia harus mampu mengartikan maksud dan tujuan kedua lembaga barat tersebut.
Ia menilai, pertanyaan tersebut bentuk dari kegagalan hegemoni Amerika Serikat atau barat, dimana pihak barat ingin menyampaikan pernyataan bahwa dunia menghadapi krisis.
"Kita harus waspada jika kita melihat big picture geopolitik, Amerika Serikat tak mau direplace hegemoni-nya. Mereka tak siap untuk itu. Mereka menyiapkan skenario, menyiapakan untuk sisi bagian dunia lain. Agenya menyuarakan hal tersebut," ujar Misbakhun dalam saat diskusi Gelora Talks, belum lama ini.
Anggota Komisi XI DPR ini menjelaskan, situasi krisis ini justru dinilainya menguntungkan Indonesia.
Alasannya, kata Misbakhun, nilai jual komoditas Indonesia meningkat sehingga disisi lain menguntungkan Indonesia.
"Saya beranggapaan jika geopolitik merupakan kepanjangan tradewar saya yakin Indonesia berada posisi tetap tinggi, karena tak mungkin China nanti beli ke AS atau sebaliknya sudah pasti Indonesia punya posisi," ungkapnya.
Selain itu, Misbakhun menuturkan, jika ada ancaman bakal terjadi inflasi tinggi yang diperingatkan IMF hingga Bank dunia maka menurutnya Indonesia lebih mampu bertahan.
Menurutnya apa yang dilakukan pemerintah ini sudah di antisipasi lewat peran APBN. Sekaligus Perlinsos yang digulirkan pemerintah merupakan senjata yang ampuh menahan inflasi yang terjadi.
"kemudian soal inflasi tinggi Indonesia punya kekuatan bertahan lebih tinggi," tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta semua pihak waspada dan hati-hati menghadapi situasi global saat ini. Saat ini dunia masih menghadapi krisis yang sulit dan bertubi-tubi, mulai dari krisis pangan hingga keuangan.
Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi 60 negara di dunia akan mengalami kesulitan dalam perekonomiannya.
“Terakhir baru kemarin saya mendapatkan informasi 60 negara akan ambruk ekonominya, 42 dipastikan sudah menuju ke sana. Siapa yang mau membantu mereka kalau sudah 42 (negara)?” kata Presiden saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta, pada Selasa (21/6/2022).
“Mungkin kalau 1, 2, 3 negara krisis bisa dibantu mungkin dari lembaga-lembaga internasional, tapi kalau sudah 42 nanti betul dan mencapai bisa 60 betul kita enggak ngerti apa yang harus kita lakukan,” tutupnya.