Kabargolkar.com - Senior Golkar Nusron Wahid menyoroti hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menunjukkan nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI mengalami peningkatan sebesar 32,94 persen.
Merespon hal tersebut, anggota Komisi VI DPR Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, capaian itu membuktikan BRI mampu menjadi bank yang inklusif dan bukan bank konservatif.
Menurut Wakil Ketua Umum (Waketum) PBNU ini, lazimnya bank yang konservatif hanya peduli terhadap fungsi intermediasi, yakni funding (mencari tabungan) dan financing (memberikan kredit).
Bank konservatif, kata Nusron, tak pernah peduli nasib nasabah, apakah bisnisnya berkelanjutan atau tidak.
"Yang penting duitnya balik dan ada cost of fund (bunga). Tapi BRI tidak. Sangat inklusif," kata Nusron dari keterangan persnya, Kamis (25/8/2022).
BRI, menurut Nusron, selalu mencarikan solusi tentang kelangsungan usaha nasabah.
Kontribusi bank pelat merah ini terhadap penyerapan tenaga kerja dan bahkan dampaknya terhadap perekonomian nasional, menurut Nusron, tak perlu diragukan.
"Ini yang saya sebut bank yang berkualitas dan inklusif. Tidak semata-mata meminjamkan duit dan cari untung. Tapi punya program yang ada dampak terhadap makro dan mikro ekonomi," tegas Nusron.
Sebagai informasi, BRI mendapat jatah terbesar penyaluran KUR dengan porsi kurang lebih 70 persen dari total alokasi KUR secara nasional.
Pada 2020, jatah penyaluran KUR BRI mencapai Rp 140,2 triliun dengan realisasi Rp 138,5 triliun.
Kemudian pada 2021, kuota KUR BRI naik menjadi Rp 195,59 triliun dengan realisasi penyaluran Rp 194,9 triliun.
Di tahun 2022, kuota KUR BRI mencapai Rp 260 triliun dengan realisasi penyaluran untuk periode Januari-Mei 2022 Rp 104,5 triliun.