Kabargolkar.com - Anak muda milenial di Indonesia disebut tak ada yang ingin jadi nelayan, bahkan malas jika harus menekuni atau berprofesi di bidang kelautan lantaran nasibnya bakal tidak jelas.
Hal itu diungkap oleh Anggota DPR RI Fraksi IV dari Golkar, Dedi Mulyadi, dalam Rapat Kerja dengan Menteri Kelautan dan Perikanan di Gedung DPR RI, hari ini Selasa (17/1/2023).
Awalnya Dedi menyebut soal kekuatan laut dan nelayan di Indonesia menurun drastis dibanding beberapa waktu.
Selaun itu, imbas Bahan Bakar Minyak (BBM) naik membuat daya jelajah nelayan tak lagi jauh, serta animo menjadi nelayan menurun drastis.
"Karena apa? kerena malasnya anak muda milenial itu kini menekuni kelautan. Sama kayak petani jual tanahnya. Sama kayak di laut. Karena bagi mereka milenial, tidak ada perubahan nasib di laut," jelas Dedi Mulyadi diikuti dari Youtube DPR TV.
Dedi memberi analogi, fenomena langka anak muda jadi nelayan ini seperti halnya mulai menurunnya animo anak muda milenial menjadi petani. Keduanya disebut bernasib serupa, tidak menjanjikan masa depan yang layak.
Mantan Bupati Purwakarta itu juga menyebut, kini nelayan tak lagi mendapatkan ikan yang besar, tapi memilih melaut di pinggir saja.
"Hari ini daya jelajah para nelayan kita makin terbatas. Seiring BBM naik, jangkauannya tidak lagi luas, tapi hanya di pinggir. Karena kemampuan operasional dan kapalnya terbatas," jelasnya.
Lantas, ia memprediksi di masa depan laut Indonesia bakal dikuasai oleh nelayan asing.
"Jika dalam jangka panjang tidak ada perubahan. Saya katakan, suatu saat nanti, hanya orang kaya yang menangkap ikan di indonesia," jelasnya.
"Bisa juga, nanti yang menangkap ikan di indonesia adalah nelayan asing yang berbendera Indonesia. Itu yang akan terjadi," jelasnya.
"Makanya,, kemenerian Keluatan jangan hanya bikin kebijakan gitu saja. Harus buat (kebijakan) yang mengubah nasib,"jelasnya.
Ia lantas memberi contoh soal kelayakan dan kebijak dengan menyebut soal maraknya properti jual rumah dengan uang muka (DP) murah, dan kredit murah menyebar di daratan.
Di kampung nelayan atau kebijakan sejenis terkait rumah misalnya, kata Dedi, malah tidak ada. Tidak menyasar ke nelayan-nelayan.
"Tapi saya tidak jumpai kredit rumah para nelayan. Jadi harus mulai kita ubah. Rumah harus memadai atau bikin perkampungan nelayan layak. Juga perahu atau kapal yang daya jelajahnya tinggi," terangnya
"Di laut harus kita ubah, kalau tidak ubah. Maka makin lama makin miskin di daerah kita sendiri," tutupnya. (kompas.tv)