Jakarta — Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR
RI Ravindra Airlangga menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan Indonesia–Uni Eropa atau IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement). Menurutnya, Kemitraan ini perlu diperkuat tidak hanya melalui jalur eksekutif, tetapi juga melalui jalur diplomasi parlemen sebagai pilar strategis dalam hubungan kedua pihak.
Diketahui bahwa IEU-CEPA adalah perjanjian dagang komprehensif untuk meningkatkan investasi dan ekspor-impor antara Indonesia dan Uni Eropa
Hal tersebut disampaikan Ravindra dalam pertemuan dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Republik Indonesia dan Brunei Darussalam H.E. Denis Chaibi, yang turut didampingi Leila Fernandez-Stembridge selaku Head of the South East Asia and ASEAN Division European External Action Service (EEAS), serta Antoine Ripoll sebagai Minister Counsellor for Parliamentary Relations pada Delegasi UE untuk ASEAN.
Ravindra menyampaikan bahwa kehadiran delegasi Uni Eropa menjadi sinyal kuat bahwa hubungan Indonesia–UE tidak hanya berkembang pada level bilateral, tetapi juga menjadi bagian dari arsitektur kemitraan strategis yang lebih luas antara Uni Eropa dan ASEAN.
“Ini menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Uni Eropa tidak hanya dipupuk di tingkat bilateral, tetapi juga tertanam dalam hubungan strategis Uni Eropa dan ASEAN, dengan diplomasi parlemen sebagai pilar penting,” kata Ravindra kepada wartawan di Gedung Nusantara III, Senayan, Kamis (12/2/26).
IEU-CEPA Jadi Tonggak Baru Hubungan Strategis
Dalam kesempatan itu, Ravindra menyoroti capaian penting hubungan Indonesia–Uni Eropa melalui IEU-CEPA yang dicapai pada 13 Juli 2025, setelah hampir satu dekade proses negosiasi.
Menurutnya, IEU-CEPA menjadi tonggak baru yang menandai fase kemitraan yang lebih komprehensif sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis Uni Eropa di kawasan Asia Tenggara dan ASEAN.
Perdagangan 2024 Capai US$30,1 Miliar
Ia juga menyampaikan bahwa Uni Eropa masih menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia. Pada tahun 2024, nilai perdagangan bilateral tercatat mencapai sekitar US$30,1 miliar, dengan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan sekitar US$4,5 miliar, meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Ravindra meyakini implementasi IEU-CEPA ke depan akan membuka akses pasar lebih luas, memperkuat ekspor Indonesia, sekaligus mendorong investasi berkelanjutan yang memberi manfaat konkret bagi kedua pihak.
Kerja Sama Geopolitik dan Keamanan di Indo-Pasifik
Selain aspek ekonomi, ia menilai kerja sama Indonesia–Uni Eropa juga memiliki dimensi penting pada bidang geopolitik dan keamanan. Kedua pihak disebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, termasuk dukungan terhadap ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Ravindra menekankan, keterlibatan Uni Eropa dalam berbagai kerangka kerja sama ASEAN merupakan faktor penting dalam membangun kepercayaan dan menjaga stabilitas Indo-Pasifik secara berkelanjutan.
Diplomasi Parlemen Jadi Ruang Strategis
Ravindra menegaskan bahwa diplomasi parlemen memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia–Uni Eropa, termasuk dalam mendorong kesinambungan kemitraan jangka panjang.
Menurutnya, hubungan antarparlemen dapat menjadi ruang dialog untuk membahas isu lintas kawasan, memperdalam saling pengertian, serta memperkuat kerja sama konkret yang berdampak bagi masyarakat