Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Purnamasidi Soroti Penghitungan Anggaran Pendidikan: Belum Menyentuh Kebutuhan Riil di Lapangan
  Muzaki   29 April 2026
Anggota Komisi X DPR RI, Muhamad Nur Purnamasidi

Jakarta - Anggota Komisi X Fraksi Partai Golkar DPR RI
Muhamad Nur Purnamasidi menyampaikan bahwa selama ini perhitungan anggaran pendidikan masih belum menyentuh kebutuhan riil di lapangan, perhitungan yang dilakukan masih terlalu umum. 

Jika melihat masing-masing daerah memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda-beda, terutama wilayah yang tergolong terpencil. Oleh karena itu setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Pemerintah selama ini belum pernah benar-benar menghitung secara detail berapa biaya riil untuk mendidik satu anak. Di daerah tertentu, terutama yang jauh atau aksesnya terbatas, biayanya bisa jauh lebih besar karena ada banyak kebutuhan yang tidak ter-cover dalam skema anggaran yang ada. Kebutuhan yang seringkali tidak tercover dalam skema penganggaran selama ini seperti permasalahan transportasi, distribusi tenaga pendidik, fasilitas tambahan, dan lain sebagainya. 

Beberapa poin kebutuhan tersebut seringkali tidak masuk perhitungan, sehingga belum dapat terpenuhi sepenuhnha. Hal ini disampaikan oleh Purnamasidi saat melakukan Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR bertemu dengan Bupati Kabupaten Karimun di Provinsi Kepulauan Riau.

Purnamasidi mencontohkan, di daerah seperti Kabupaten Karimun, biaya pendidikan per siswa bisa saja lebih tinggi dibandingkan wilayah lain karena faktor geografis dan keterbatasan akses. 

Pendekatan anggaran yang lebih spesifik perlu diterapkan agar daerah dengan kondisi sulit tetap bisa memberikan layanan pendidikan yang layak, meskipun jumlah siswanya sedikit. Walaupun jumlah siswa di suatu sekolah hanya lima orang, siswa tetap harus mendapatkan layanan pendidikan yang sama. Karena itu, negara tidak boleh membeda-bedakan hanya karena jumlahnya sedikit atau lokasinya jauh. Justru dengan kondisi pendidikan di pedalaman dengan akses yang jauh, biayanya dapat jadi lebih besar, bahkan bisa mencapai puluhan juta per anak. Karena yang dibiayai bukan hanya proses belajar di kelas, akan tetapi juga dalam hal akses, fasilitas, dan bagaimana memastikan guru tetap mau mengajar di daerah terpencil tersebut. Hal ini yang perlu dilihat secara adil, supaya tidak ada anak yang tertinggal hanya karena faktor wilayah.

Purnamasidi juga menyinggung pentingnya memberikan insentif yang layak bagi guru yang bertugas di daerah terpencil. Selama ini, perbedaan kondisi lapangan belum sepenuhnya diikuti dengan kebijakan yang berpihak pada tenaga pendidik.

Guru memang harus mau ditempatkan di daerah, termasuk wilayah yang jauh dan aksesnya terbatas. Akan tetapi tentu tidak dapat disamakan dengan kondisi mengajar di kota. Harus ada kompensasi yang berbeda dan lebih layak, karena tantangan yang dihadapi juga jauh lebih besar mulai dari fasilitas yang terbatas, akses transportasi, sampai kondisi sosial di lapangan. Kalau tidak ada perhatian khusus dari sisi kesejahteraan, akan sulit mendorong guru untuk bertahan dan mengajar secara maksimal di daerah-daerah tersebut. 

Komisi X DPR RI juga mendorong adanya perubahan besar dalam tata kelola guru. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah sentralisasi manajemen guru, dimana penggajian tidak lagi menjadi beban pemerintah daerah

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.