“Yang saya lihat seperti itu petanya di Berau. Tinggal nanti menunggu hasil survei. DPP (Dewan Pimpinan Pusat) yang akan menganalisa,” kata HARUM, Rabu (17/6). “Kami tetap mengusulkan kedua kandidat ini ke DPP. Tapi yang diberikan rekomendasi untuk membawa Partai Golkar, menunggu keputusan DPP,” lanjutnya.
Menurutnya, DPP tentu memiliki kriteria sendiri untuk menilai siapa yang layak diusung Golkar pada pilkada nanti. Apalagi beberapa kandidat yang mengikuti penjaringan di Golkar beberapa bulan lalu merupakan figur yang mumpuni. “Keputusan baru ada di akhir Juni. Nanti akan mengerucut dua nama. Kemungkinan Seri Marawiyah dan Syarifatul. Semua kader terbaik, sama-sama mumpuni dan memiliki kriteria sendiri,” katanya.
HARUM menjelaskan, mendapat dukungan Golkar dan tanpa dukungan Golkar itu melihat dari kandidat pasangannya. Seperti Seri Marawiyah yang digadang-gadang akan berpasangan dengan Agus Tantomo, wakil bupati Berau. Agus Tantomo yang bernaung di Partai NasDem memiliki 6 kursi di DPRD yang cukup untuk mengusung calon sendiri.
Begitu juga Syarifatul yang diperkirakan akan berpasangan dengan Muharam. Muharram sendiri selaku bupati Berau dan juga politisi PKS memiliki 4 kursi di DPRD. Artinya meskipun keduanya tanpa dukungan Golkar, tetap bisa maju pada pilkada nanti.
“Hanya saja yang menjadi seksi yakni Golkar. Karena kemungkinan salah satunya tidak mendapatkan dukungan partai. Tidak mungkin mendukung dua-duanya. Itu biar DPP yang bekerja untuk menganalisa. Yang memutuskan dari DPP,” jelasnya.
Dari kedua kader Golkar itu, HARUM menyebut Seri Marawiyah diperkirakan akan maju sebagai calon bupati. Sedangkan Syarifatul maju sebagai calon wakil bupati.
“Jika Seri Marawiyah mendapatkan dukungan dari Golkar, maju sebagai Berau 1. Tapi jika dukungan (Golkar) ke Syarifatul, maka sebagai Berau 2,” pungkasnya.