Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Mas Sumatri-Sukerana Dapat Dukungan Senior Golkar di Pilkada Karangasem
  Bambang Soetiono   16 Januari 2020
besar akan menjadi Cawabup pendampingi Gede Dana yang diusung PDIP di Pilkada Karangasem 2020. Wayan Artha Dipa adalah mantan Dewa Penasihat NasDem Karangasem yang hijrah ke Golkar, November 2019 lalu. Sedangkan Gede Dana adalah politisi asal Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem yang kini menjabat Ketua DPC PDIP Karangasem dan sekaligus Ketua DPRD Karangasem 2019-2024.

Munculnya Artha Dipa sebagai kandidat Cawabup pendamping Gede Dana praktis menunjukkan Golkar masih pasang dua kaki di Pilkada Karanasem 2020. Semula, sempat muncul politisi Golkar lainnya, I Nengah Sumardi, yang notabene adik kandung mantan Bupati Wayan Geredeg, sebagai kandidat Cawabup pendamping Gede Dana. Namun, paket Dana-Sumardi ini buyar dengan munculnya paket Dana-Artha.

Di sisi lain, jika Made Sukerana menjadi tandem Mas Sumatri, juga sebagai representasi Golkar. Maka, siapa pun yang keluar sebagai pemenang antara paket Mas Sumatri-Sukerana vs Gede Dana-Sartha Dipa, Golkar tetap menang.

Namun, jurus main ‘dua kaki’ ini dibentah oleh fungsionaris DPP Golkar, Dewa Made Widiyasa Nida, saat dihubungi NusaBali terpisah, Rabu kemarin. Menurut Dewa Nida, DPP Golkar tidak mungkin merekomendasikan dua kadernya untuk saling berhadap-hadapan di Pilkada, dengan diusung parpol berbeda.

"Artha Dipa sampai sekarang memang masih sebagai kader Golkar. Dia harusnya menunggu proses di Golkar selesai, bukan menarik diri dari pencalonan di Golkar. Kalau nanti Artha Dipa direkomendasi PDIP dan Golkar mengusung Sumatri-Sukerana, maka otomatis Artha Dipa dipecat dari partai. Jadi, kami tidak main dua kaki, " tegas Dewa Nida.

Dewa Nida menyebutkan, sebenarnya Artha Dipa masih punya peluang di Golkar. Hanya saja, Artha Dipa tidak sabaran hingga keburu mengurkan diri. Padahal, proses belum selesai. Survei masih jalan, pleno juga belum dilaksanakan.

“Kalau terus bermanuver dan loncat-loncat, itu artinya Artha Dipa memang sarat kepentingan. Artinya nggak ada peluang di NasDem, loncat ke Golkar. Nggak ada peluang di Golkar, kemudian lari ke PDIP. Mungkin kalau ada partai baru dan ada peluang lebih besar, dia akan pindah ke sana," cibir mantan Ketua DPD II Golkar Klungkung ini. (nusabali)

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.