Kedua, ditambah dengan kehadiran para bakal calon bupati dan wakil bupati dari sembilan daerah Pilkada. "Hasil rakor yaitu semuanya ditentukan oleh survei, sekaligus untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan," tandasnya.
Frans Sarong menyebut ada lima calon bupati hadir bersama pasangan calon wakil bupati. Kelimanya yaitu Malaka, Sumba Timur, Sumba Barat, Ngada dan Manggarai Barat.
Bakal Calon Bupati TTU Kristoforus Efi mengatakan, akan mengikuti semua mekanisme Partai Golkar, termasuk survei. Dia yakin akan mendapatkan hasil survei yang signifikan.
"Setiap bakal calon punya peluang yang sama, tergantung survei. Saya sangat yakin saat survei pastilah nama saya juga akan disebut oleh masyarakat, walaupun kita belum tahu presentasinya," kata Kristoforus saat ditemui di Labuan Bajo, Minggu (26/1/2020).
Menurutnya, timnya sudah bekerja menawarkan konsep dan gagasan demi perubahan pembangunan yang lebih baik di TTU.
"Selama ini sudah jalan, sudah berkeliling. Bahan atau alat peraga kampanye juga sudah didistribusi dan kami tetap di lapangan bersama-sama masyarakat sehingga ketika survei, kami pasti disebut," ujarnya.
Selain Golkar, Kristoforus membangun komunikasi dengan beberapa partai politik, yaitu Demokrat, PKB, Gerindra dan Hanura.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengingatkan partainya berhati-hati dalam mengusung calon kepala daerah untuk Pilkada 2020. Menurutnya, figur calon kepala daerah sangat menentukan perolehan suara.
"Jadi yang paling menentukan dalam pilkada ini, pertama adalah tokohnya," ujar Bambang di Cililitan, Jakarta Timur, Sabtu (25/1/2020).
"(Kalau) partai salah pilih figur, maka sulit buat memenangkan pertarungan. Menurut saya, Golkar harus hati-hati dalam menentukan siapa yang dicalonkan," tandas Bambang.
Faktor kedua, lanjut Bambang, Partai Golkar tidak bisa lepas dari kerja sama dengan partai lain. Kerja sama itu menyangkut terpenuhinya syarat pencalonan kepala daerah.
"Harus ada kerja sama dengan partai-partai lain dalam satu koalisi yang mendukung calon (kepala daerah) itu," tutur Bambang.
Partai Golkar, kata Bambang, sudah memiliki target untuk Pilkada 2020 yang sudah dirumuskan dalam musyawarah nasional beberapa waktu lalu. "Sehingga kita lihat nanti di lapangan. Kalau itu (berapa persen kemenangan) silakan tanya ke DPP Golkar," katanya.
Sebelumnya, Partai Golkar menggandeng 10 lembaga survei menjelang Pilkada Serentak 2020. Adapun lembaga survei yang menjadi rekanan Golkar yakni Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdeham) Surabaya yang dipimpin Muhammad Asfar, Indikator Politik yang dipimpin Burhanuddi Muhtadi.
Ada juga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dipimpin Sirojudin Abbas, Charta Politika yang dipimpin Yunarto Wijaya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Djayadi Hanan, Indo Barometer yang dipimpin M. Qodari.
Kemudian, Polmark Indonesia yang dipimpin Eep Saefulloh Fatah, Lembaga Survei Sinergi Data Indonesia (SDI) yang dipimpin Barkah Pattimahu, Poltracking Indonesia yang dipimpin Hanta Yuda, serta LSI yang dipimpin Denny JA.
Golkar sengaja menggandeng lembaga survei yang telah diketahui rekam jejaknya untuk memberi rekomendasi calon pemimpin yang laik ikut Pilkada 2020.
Pasalnya, Partai Golkar memprioritaskan kadernya untuk maju dalam Pilkada 2020. Untuk itu, Partai Golkar bakal memperhatikan popularitas, elektabilitas, kemampuan logistik.
Pilkada 2020 akan digelar di 270 wilayah di Indonesia, meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Pemungutan suara Pilkada 2020 jatuh pada tanggal 23 September mendatang.
Pengamat Politik Dr Ahmad Atang mengatakan, Partai Golkar sebagai salah satu partai papan atas di NTT tentu akan memaksimalkan momentum