kabargolkar.com, JEMBER - Iklim tropis Indonesia sangat cocok untuk pengembangan tanaman porang dengan hasil umbi berukuran besar. Potensi yang besar ini patut disambut baik oleh petani Indonesia dalam membudidayakan tanaman porang. Karena hasilnya sangat diminati pasar luar negeri terutama Cina.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga saat meninjau Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Jember Jawa Timur beberapa waktu lalu. Menurutnya saat ini merupakan momen yang tepat untuk meningkatkan ekonomi para petani di masa pandemi.
“Salah satu target negara penerima porang dari Indonesia adalah Cina. Kalau tidak salah hampir 70 persen, Tiongkok mengambil porang kita. Saya pikir ini bentuk keberpihakan kita mencari produk-produk yang potensial untuk ekspor bagi peningkatan ekonomi para petani," urai Jerry kepada Sariagri, Kamis (24/6/2021).
Hanya saja, lanjut Jerry, ada hal teknis yang perlu diselaraskan antara Pemerintah Cina dan Indonesia yakni memastikan Harmonized Commodity Description and Coding System (HS Code) agar tepat sasaran.
"Tujuannya merekam berapa banyak produk yang diekspor, lalu sertifikasi yang dilakukan oleh custom dan saat ini sedang on progres. Ketika itu semua sudah rampung, saya yakin Porang semakin banyak diminati di pasar global," kata dia.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyampaikan, Pemprov memberi atensi khusus terhadap komoditas tanaman porang. Dirinya telah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo bahwa Porang di Jatim memiliki peluang ekspor yang besar.
"Bu Gubernur Jatim juga sudah memberi atensi khusus untuk komoditi Porang. Karena komoditi ini sangat menguntungkan petani kecil. Jadi, mudah-mudahan ada sistem tata niaga yang menguntungkan petani kecil. Jangan sampai terjadi korporitasi berlebihan terhadap pertanian Porang," ujar Emil.
Emil menambahkan komoditas porang di Jatim dapat dioptimalkan. Namun, masih ada kendala terkait qualify assurance (jaminan mutu).
"Makanya kita ingin memaksimalkan Sistem Resi Gudang. Karena tidak bisa SRG diterbitkan jika qualify assurance tidak memiliki standarisasi," kata dia.
Emil menyebut, ada beberapa sentuhan teknologi seperti penyinaran tertentu yang diperlukan untuk mengekspor hortikultura ke Jepang khususnya porang. "Kalau sudah bisa menerapkan standarisasi mutu, insyaallah komoditas-komoditas lain bisa mengikutinya ke arah ekspor, termasuk ekspor porang," ucap dia.
Saat ini, pihaknya tengah mengidentifikasi pasar ekspor untuk komoditas porang untuk menjadikan komoditas unggulan di Jatim.
"Kita bisa bersinergi mengidentifikasi pasar yang sudah didobrak dan Jatim harus peka memanfaatkan peluang tersebut," pungkasnya.