“Secara global permintaan akan Electric Vechicle (EV)/kendaraan listrik, yang menghasilkan emisi lebih rendah atau bahkan 0, meningkat dengan tajam bahkan di saat pandemi. Contohnya, permintaan EV Eropa meningkat lebih dari 100 persen di tahun 2020,” sebutnya.
Pemerintah akan terus mendorong pengembangan ekosistem EV dalam negeri, mulai dari manufaktur baterai termasuk cell, module, pack, recycling baterai, sampai produksi kendaraan EV. Pembuatan komponen baterai dan kendaraan EV akan mengandalkan komoditas andalan Indonesia seperti nikel, tembaga, aluminium, dan timah.
Menko Luhut menyampaikan bahwa sejalan dengan target mengenai perubahan iklim, produksi EV pun diharuskan untuk bersifat rendah emisi, sehingga pembangkit listrik yang digunakan pun harus merupakan energi baru terbarukan (EBT).
Sejalan dengan target peningkatan pemakaian EV, pembuatan komponen baterai dan kendaraan EV akan mengandalkan komoditas andalan Indonesia seperti nikel, tembaga, aluminium, dan timah. “Sehingga, jelas bahwa diperlukan ahli teknologi yang tidak hanya paham mengenai sumber daya mineral Indonesia, namun juga memahami isu lingkungan dan arah pengembangan ke depan,” tambah Menko Luhut.
Dengan target industrialisasi Indonesia, saat ini diperkirakan Indonesia kekurangan kurang lebih 100.000 sarjana teknik yang siap dipakai oleh industri. “Saya berharap forum ini dapat melahirkan banyaknya ahli teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut,” tutupnya.
Acara Dies Natalis FG Unpad ke-62 yang dibuka oleh Rektor ini dihadiri secara virtual oleh 300-an peserta.*