26 Oktober 2021
Sinergitas SOKSI - CSIS, Bangun Kemajuan Peradaban yang Lebih Baik dan Bermartabat
  Nyoman Suardhika
  13 Oktober 2021
  • Share :
Credit Photo / Soksinews

Kabargolkar.com - Pendiri dan jajaran CSIS yang terdiri dari Harry Tjan Silalahi, Jusuf Wanandi, J Kristiadi, menyambut antusias kedatangan kembali SOKSI di rumah sendiri (CSIS) yang sejak awal kemerdekaan telah bersinergi untuk menjaga tegak dan kokohnya Pancasila serta melawan berbagai paham yang bertentangan dengan konstitusi.

Terkait dengan itu, Ketua Umum DEPINAS SOKSI Ahmadi Noor Supit menilai, perlu adanya kerjasama yang dibangun dan mampu menghasilkan solusi nasional berbasis data dan peramalan berdasarkan prinsip idealisme.

Menutur Supit -sapaan akrabnya- sebagai organsiasi yang sudah tidak diragukan lagi kompetensi dan kredibilitasnya, SOKSI berposisi menjaga konsistensi perjuangan demi membangun kemajuan peradaban yang lebih baik dan bermartabat.

"Sederet persoalan kebangsaan menjadi tanggung jawab kita semua, sebagai contoh maraknya politik transaksional, munculnya leadership distrust, berkembangnya oligarki dan dinasti politik, kehilangan jati diri dan budaya bangsa, isu separatisme, budaya laten korupsi, dan lain-lain," terang Supit melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/10/2021).

Ketua Dewan Kehormatan DEPINAS SOKSI, Oetojo Oesman menambahkan, menengok masa lalu dirasa cukup penting untuk bisa meramal masa depan. Seperti halnya menceritakan tentang sejarah perang, di mana peran logistik sangat menentukan kemenangan aksi.

Sementara itu, peneliti CSIS, Jose Rizal optimis perekonomian Indonesia masih dalam kondisi baik dan mampu bersaing. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19. Ia teringat pada masa Soekarno dulu, Indonesia pernah mengalami inflasi hingga 600 persen. Namun, dalam setahun mampu pulih kembali.

"Strategi adalah kuncinya," jelas Jose.

Tentunya, di masa pandemi ini sektor ekonomi masih terkontrol dan bisa berjalan, kendati ada tiga permasalahan besar di tingkat internasional. Antara lain tingginya inflasi lantaran produksi yang tidak sejalan dengan permintaan, bubble boom di sektor properti, serta suku bunga internasional yang terlalu tinggi sehingga perekonomian tersendat dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang serius.

"Selain itu, kewaspadaan akan krisis energi perlu dipertimbangkan, karena akan membuat pertumbuhan tersendat," lanjut Jose.

Bangsa ini memiliki keunggulan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, kondisi ekonomi stabil, posisi suku bunga domestik dan hutang saat ini masih bagus. Kendati demikian, perlu adanya kerjasama dalam membangun ekonomi global dan internasional agar harmonisasi tercapai. 

"Selain itu, perhatian pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdegradasi khususnya pasca pandemi, di mana terjadi gap generation atau jarak antar generasi yang timbul akibat learning loss dampak belajar online serta mandulnya aktivitas masyarakat," tambahnya.

Peneliti CSIS lainnya, Philip Vermonthe mempertanyakan terkait Indonesia secara ideal akan di bawa ke mana pada 2045. Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini mengalami masa cateris parebus atau tidak stagnan terkait dengan kompetisi dengan sejumlah negara lain.

"Sehingga kita harus extra effort atau menambah upaya yang bersifat strategis," ungkap Philip.

Ia menuturkan, electoral engineering merupakan tugas partai politik (parpol). Penyederhanaan parpol dan sistem Pemilu harus dilakukan secara natural demi menjaga stabilitas politik.

"Perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan sistem Pemilu ke proporsional tertutup, sebagai upaya penyehatan parpol dan menghasilkan pemimpin yang lebih berkualitas, serta meminimalisir dampak buruk Pemilu di kalangan masyarakat," paparnya.

Philip menilai, kritik umum terhadap kondisi reformasi yang kebablasan ini adalah bagaimana Indonesia saat ini mampu mengelola kelompok anak muda yang semakin menjauh dari prinsip dan implementasi nilai-nilai Pancasila, serta bagaimana membumikan Pancasila untuk para generasi milenial tersebut.

"Mindset inward looking harus dgeser menuju outward looking agar tercipta awareness detrimental dengan proses investasi, hutang, karena bisa menimbulkan direct impact terhadap masyarakat untuk melihat peluang  di luar," kata Philip.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pakar DEPINAS SOKSI, Bomer Pasaribu mengingatkan kondisi anomali Indonesia dengan populasi terbesar, namun sangat bertolak belakang terhadap kondisi ekonomi yang dapat mengakibatkan kesenjangan dan produktivitas sangat rendah.

"Indonesia masih dalam posisi revolusi 4.0 sementara di Eropa sudah beradaptasi dengan revolusi 5.0. Selain itu, bonus demografi, daya saing merosot, growth happiness rendah,  korupsi kuat, gini ratio meningkat tajam, deindustrialisasi, dan hal lainnya menjadi kelemahan serius Indonesia," beber Bomer.

:Kita masih dalam lower middlle trap. Target 2045 untuk bergerak menuju Indonesia maju masih dalam tataran mimpi yang sulit teraktualisasi. Sehingga perlu kita dorong untuk redesign atas kondisi yang ada," pungkas Bomer.

Sumber: Soksinews

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.