"Mindset inward looking harus dgeser menuju outward looking agar tercipta awareness detrimental dengan proses investasi, hutang, karena bisa menimbulkan direct impact terhadap masyarakat untuk melihat peluang di luar," kata Philip.
Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pakar DEPINAS SOKSI, Bomer Pasaribu mengingatkan kondisi anomali Indonesia dengan populasi terbesar, namun sangat bertolak belakang terhadap kondisi ekonomi yang dapat mengakibatkan kesenjangan dan produktivitas sangat rendah.
"Indonesia masih dalam posisi revolusi 4.0 sementara di Eropa sudah beradaptasi dengan revolusi 5.0. Selain itu, bonus demografi, daya saing merosot, growth happiness rendah, korupsi kuat, gini ratio meningkat tajam, deindustrialisasi, dan hal lainnya menjadi kelemahan serius Indonesia," beber Bomer.
:Kita masih dalam lower middlle trap. Target 2045 untuk bergerak menuju Indonesia maju masih dalam tataran mimpi yang sulit teraktualisasi. Sehingga perlu kita dorong untuk redesign atas kondisi yang ada," pungkas Bomer.
Sumber: Soksinews