Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Senapas dengan PDIP, Golkar Tidak Menginginkan Jabatan Kepala Negara Ditambah Masa Jabatannya
  Nyoman Suardhika   22 September 2021
Credit Photo / Tribunnews

Kabargolkar.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Sabil Rachman sepakat
atas pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto yang memastikan, PDI Perjuangan tidak menginginkan adanya aturan yang mengizinkan jabatan presiden menjadi tiga periode dan juga menolak penambahan masa kedudukan kepala negara lebih dari sepuluh tahun.

“Mas Hasto (Kristiyanto) saya kira hanya menyampaikan apa yang juga dipikirkan oleh partai lain. Jadi ini bukan hal baru. Golkar juga sejak awal senafas dengan apa yang disampaikan Mas Hasto bahwa kita sungguh-sungguh konsisten menapaki jalan konstitusi, di mana masa jabatan presiden adalah lima tahun dan dapat dipilih kembali untuk mengemban amanah lima tahun berikutnya,” katanya seperti yang kami lansir dari laman hmstimes.com, Rabu, (22/9/2021).

Sabil menambahkan, pertanyaan sebenarnya adalah, dari mana titik munculnya ambisi bahwa jabatan presiden bisa lebih dari dua kali?

Menurut Ketua Partai Golkar bidang Kerja Sama Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) ini, wacana jabatan presiden sepertinya berkembang agak liar dalam kurun waktu setahun terakhir. Apalagi makin kuatnya wacana amandemen UUD, yang bisa dijadikan pintu masuk mengukuhkan gagasan tersebut.

“Itu sebabnya saya menganggap bahwa wacana amandemen tidak memiliki urgensi hukum dan politik untuk dilaksanakan. Siapa yang bisa menjamin, bahwa jika amandemen dilakukan hanya akan membahas dan mengubah serta menambahkan pasal tentang posisi haluan negara baru, seperti yang acap kali disampaikan Ketua MPR Pak Bambang Soesatyo, dengan alasan sebagai hal urgen untuk pemandu arah pembangunan?”

Siapa di antara kita bisa menjamin bahwa amandemen tersebut sungguh-sungguh terbatas, kata Sabil Rachman yang juga Sekjen Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957 salah satu ormas pendiri Golkar.

Belum Ada Dukungan

Dikatakan, apalagi sampai saat ini belum satu pun partai secara tegas mendukung amandemen, bahkan termasuk Golkar, partai di mana Bamsoet menjadi representasi sebagai pimpinan/Ketua MPR. Karena itu pernyataan pak Hasto adalah konfirmasi atas keraguannya dengan amandemen yang sama dengan Golkar, karena cendrung dapat dijadikan tumpangan agenda-agenda lain, termasuk di antaranya soal kemungkinan membahas perpanjangan masa jabatan presiden.

Doktor bidang Politik dari FISIP Universitas Indonesia ini juga menjelaskan, pernyataan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto itu baru bisa cukup kuat, jika jaminan yang sama diberikan partai politik yang lain.

“Saya sendiri ragu atas jaminan tersebut tanpa hadirnya jaminan dan komitmen partai-partai yang lain. Terlalu berat jika hanya PDIP dan karena itu harus dibangun komunikasi politik yang lebih intensif terutama dengan partai-partai koalisi pemerintah yakni Golkar, PKB, PPP, Nasdem, Gerindra, dan terakhir jangan lupa juga PAN.

Dalam pernyataan melalui siaran pers, Sekjen Partai PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menyatakan, usulan amendemen terbatas Undang-undang Dasar 1945 yang dilakukan pihaknya, hanya menekankan soal Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Ia juga memastikan, bahwa PDIP dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menginginkan jabatan kepala negara ditambah masanya atau bisa diduduki tiga periode.

“PDI Perjuangan sejak awal setia pada konstitusi dan Pak Jokowi berulang kali dengan tegas menolaknya

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.