[caption id="attachment_14785" align="aligncenter" width="800"]
ilustrasi (radarbangka.co.id)[/caption]
kabargolkar.com - Setiap tahunnya, rakyat Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan pada 10 November. Yang melatarbelakangi hari peringatan tersebut yaitu peristiwa pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda yang terjadi di Surabaya, 10 November 1945, 73 tahun lalu.
Pertempuran tersebut tidak terjadi begitu saja. Ada rentetan peristiwa yang kemudian terakumulasikan dan mencapai puncaknya pada pertempuran tersebut.
Mengingat peristiwa heroik tersebut, ada beberapa hal penting untuk disimak dan diketahui, yang akan membuat kita semakin bangga untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November dan menghargai jasa para pahlawan kita.
-----
1. Maklumat tanggal 31 Agustus 1945
[caption id="attachment_14799" align="aligncenter" width="667"]
Presiden Soekarno (ist)[/caption]
Pada 31 Agustus 1945, Pemerintah Indonesia saat itu mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih harus terus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Setelah maklumat tersebut gerakan pengibaran bendera Merah Putih menyebar ke seluruh pelosok desa dan kota, termasuk Kota Surabaya. Kebanggaan warga Surabaya dengan berkibarnya Merah Putih adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar oleh apapun. Inilah kemudian yang menjadi latar insiden di Hotel Yamato, Surabaya.
Â
2. Insiden Hotel Yamato
[caption id="attachment_14796" align="aligncenter" width="750"]
Oranje Hotel (net)[/caption]
Pada tanggal 18 September 1945, Belanda yang masih bercokol di Surabaya di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah putih biru. Bendera tersebut dikibarkan pada tiang paling tinggi di Hotel Yamato (atau Hotel Oranye pada zaman kolonial) dan dilakukan tanpa meminta izin kepada Pemerintah RI yang berdaulat. Kontan saja, hal ini menimbulkan kemarahan warga Surabaya yang menganggap sebagai bentuk pelecehan, dan keesokan harinya datang langsung untuk meminta bendera tersebut diturunkan.
Perundingan yang awalnya damai, berubah menjadi keributan karena Mr. W.V.Ch. Ploegman menolak untuk memenuhi tuntutan para pejuang arek-arek Surabaya dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ploegman tewas. Kemudian para pemuda melanjutkan aksi heroik saat mereka melakukan perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, dan menggantinya dengan Merah Putih. Hal tersebut dilakukan Hariyono yang bersama Koesno Wibowo menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, dan mengibarkannya kembali sebagai bendera merah putih di puncak tiang.
[caption id="attachment_14800" align="aligncenter" width="713"]
Momen perobekan bendera Belanda bagian warna biru dan mengibarkannya kembali sebagai bendera Merah Putih di Hotel Yamato (19 September 1945) (net)[/caption]
Â
berikutnya:
Pertempuran 27 Oktober 1945
Â
3. Pertempuran 27 Oktober 1945
Kejadian di Hotel Yamato kemudian mulai merembet ke perselisihan terbuka antara pemuda Surabaya dan NICA (Belanda dan Inggris). Pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris dalam skala kecil. Bentrokan tersebut semakin hari kian memanas, berubah menjadi serangan brutal yang memakan korban jiwa di kedua belah pihak. Jenderal D.C. Hawthorn menghubungi Presiden Sukarno dan memintanya untuk meredakan situasi